PENDIDIKAN PESANTREN
KARYA TULIS ILMIYAH
Diajukan untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah
TPKI atau Bahasa Indonesia

Dosen Pengampuh :
Dr.
phil. Khoirun Niam
Disusun Oleh :
Bagus Waskito Utomo : D01212006
Fakultas Tarbiyah
Jurusan Pendidikan Agama Islam
Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
2012
Kata pengatar
Assalamu
alaikum Wr. Wb .
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang mana atas berkat dan
rahmatNya kami dapat menyelesaikan tugas
UAS yang berjudul ”Pendidikan Pesantren” ini dengan baik meskipun masih banyak
terdapat kesalahan diberbagai tempat.
Dan tidak lupa, kami ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah membantu atas
terselesaikanya karya ilmiyah yang berjudul “Pendidikan Pesantren” ini dengan
baik.
Saya juga mengucapkan terimakasih kepada para pembaca karya ilmiyah ini
khususnya mahasiswa dan mahasiswi yang mempelajari karya ilmiyah ini. Semoga karya
ilmiyah yang berbentuk makalah ini
bermanfaat bagi kita semua. Amiin
Penulis
Surabaya,
22 Desember 2012
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
A.
Latar
Belakang................................................................................................. 1
B.
Rumusan
Masalah............................................................................................. 2
C.
Pengertian
pendidikan...................................................................................... 2
D.
Pengertian
pendidikan agama........................................................................... 3
E.
Pengertian
pesantren......................................................................................... 4
F.
Pendidikan
pesantren....................................................................................... 6
G.
Ciri
– ciri pendidikan pesantren........................................................................ 10
H.
Dinamika
pesantren.......................................................................................... 11
I.
Kesimpulan....................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 15
- Latar belakang
Pesantren
merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional
untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkan sebagai pedoman hidup
keseharian. Pesantren telah diakui sebagai lembaga pendidikan yang telah ikut
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada masa kolonialisme berlangsung, pesantren
merupakan lembaga pendidikan agama yang sangat berjasa bagi masyarakat dalam
mencerahkan dunia pendidikan. Tidak sedikit pemimpin bangsa yang ikut
memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini adalah alumni atau setidak-tidaknya
pernah belajar di pesantren.
Pesantren, jika disandingkan dengan lembaga pendidikan yang pernah muncul
di Indonesia, merupakan sistem pendidikan tertua saat ini dan dianggab sebagai
produk budaya Indonesia asli. Pendidikan ini semula merupakan pendidikan agama
Islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat Islam di Nusantara pada abad ke-
13. Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur
dengan munculnya tempat – tempat pengajian. Bentuk – bentuk ini kemudian
berkembang dengan pendirian tempat – tempat menginap bagi para pelajar
(santri), yang kemudian disebut pesantren. Meskipun bentuknya masih sangat
sederhana, pada waktu ini pendidikan pesantren merupakan satu – satunya lembaga
pendidikan yang terstruktur, sehingga pendidikan ini dianggab sangat bergengsi.
Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mendalami doktrin dasar islam,
khususnya menyangkut praktek kehuduban keagamaan[1]
Pesantren merupakan tempat belajar dan menimbah ilmu sebanyak – banyaknya
terutama ilmu tentang agama. Yang akan mencetak alumni – alumni yang handal dan
mahir dalam masalah keagamaan.
- Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian pendidikan?
2.
Apa pengertian pendidikan Agama?
3.
Apa pengertian pesantren?
4.
Apa yang dimaksut pendidikan pesantren?
5.
Apa saja ciri –ciri pendidikan pesantren?
6.
Bagaimana dinamika pesantren mulai ada hingga sekarang?
- Pengertian pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat[2]
Pada hakekatnya pendidikan adalah untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan
mutu kehidupan dan martabat manusia. Siswa sebagai subjek belajar, memiliki
potensi dan karakteristik unik, sangat menentukan keberhasilan pendidikan.
Kemampuan dan kesungguhan siswa merespon pengetahuan, nilai dan ketrampilan
mempunyai andil yang besar dalam keberhasilan belajar. Keberhasilan belajar
siswa dipengaruhi oleh banyak hal yang sangat kompleks, yaitu siswa, sekolah,
keluarga dan lingkungan masyarakat. Untuk menghasilkan siswa yang berkualitas
dan berprestasi, perlu adanya optimalisasi seluruh unsur tersebut. Tugas guru
membantu siswa mencapai tujuannya, maksudnya guru lebih banyak berurusan dengan
strategi daripada memberi informasi, tetapi justru siswa yang aktif mencari
informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama
untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Guru juga dapat
mengembangkan iklim komunikasi di kelas selama pembelajaran berlangsung. Iklim
komunikasi yang dimaksud adalah adanya umpan balik interaktif antara guru dan
peserta didik. Dengan demikian, siswa akan mampu memberikan respon balik terhadap
materi pembelajaran secara aktif, tidak harus menunggu informasi dari guru.
Berbicara tentang persoalan pendidikan sama halnya membicarakan tentang kehidupan,
sebab pendidikan merupakan proses yang dilakukan oleh setiap individu menuju
arah yang lebih baik sesuai dengan potensi kemanusiaannya. Proses ini hanya
akan berhenti ketika nyawa sudah tidak ada dalam raga manusia. Dalam Islam
pendidikan diperlukan untuk membantu meneguhkan eksistensi dalam mengemban
fungsi abid dan kholifah. Eksistensi manusia sangat ditentukan
oleh sejauh mana ia mampu menjalankan kedua fungsi tersebut.
Selain itu, pendidikan pada hakikatnya merupakan proses
memanusiakan manusia. Karna itu, semua yang ada dalam praktik pendidikan
mestinya selalu memperhatikan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan dengan
fitroh yang dimiliki, sebagai mahluk indifidu yang khas, dan sebagai makhluk
social yang hidub dalam realitas social yang majemuk. Untuk itu, pemahaman yang
utuh tentang karakter manusia wajib dilakukan sebelum proses pendidikan
dilaksanakan[3]
- Pendidikan Agama
Pendidikan agama bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan
agama melatih keterampilan anak dalam melaksanakan ibadah. Akan tetapi,
pendidikan agama jauh lebih luas dari pada itu, ia pertama – tama bertujuan
untuk membentuk kepribadian anak, sesuai dengan ajaran agama. Pembinaan sikab,
dari dapa pandai menghafal dalil – dalil dan hukum – hukum agama, yang tidak
diresabkan dan dihayatinya dalam hidub.
Pendidikan agama hendaknya dapat mewarnai
kepribadian individunya, seingga agama
itu, benar – benar menjadi bagian dari pribadinya yang akan menjadi pengendali
dalam hidubnya dikemudian hari. Untuk tujuan pembinaan, maka pendidikan agama
hendaknya diberikan oleh guru yang benar – benar tercermin agama itu dalam
sikab, tingkah laku, gerak – gerik, cara berpakaian, cara berbicara, cara
mennghadapi persoalan dan dalam keseluruhan pribadinya atau dengan singkatdapat
dikatakan bahwa pendidikan agama akan sukses, apabila ajaran agama ituhidub dan
tercermin dalam pribadi guru itu
Pendidiakn agama menyangkut manusia seutuhnya, ia tidak
hanyai membekali anak dengan pengetahuan
agama atau mengembangkan intelek anak saja dan tidak pula mengisi dan
menyuburkan perasaan (sentiment) agama saja, akan tetapi ia menyangkut
keseluruhan diri pribadi anak, mulai dari latiahan – latihan (amaliyah) sehari
– hari, yang sesuai dengan ajaran agama, sampai kepada pengenalan dan
pengertian terhadab ajaran agama, baik yang menyangkut hubungan manusia dengan
tuhan, manusia dengan manusia lain, dan manusia dengan alam, serta manusia
dengan dirinya sendiri[4].
Pendidikan agama itu akan lebih berkesan dan berhasil
guda serta berdaya guna, apabila anak (keluarga, sekolah dan masyarakat) sama –
sama mengarah kepada Pembina jiwa agama pada anak.
Pendidikan agama yang baik, tidak saja memberi manfaat
bagi yang bersangkutan akan tetapi akan membawa keuntungan dan manfaat terhadab
masyarakat lingkungannya bahkan masyarakat ramai dan umat manusia seluruhnya.
- Pengertian Pesantren.
Secara bahasa, kata pesantren berasal dari kata santri
dengan awalan pe- dan akhiran -an (pesantrian) yang berarti tempat tinggal para
santri. Sedangkan kata santri sendiri berasal kata “sastri”, sebuah kata
dari bahasa sansekerta yang artinya melek huruf. Dalam hal ini menurut Nur
Cholis Majid agaknya didasarkan atas kaum santri adalah kelas literary bagi
orang jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan
berbahasa Arab. Ada juga yang mengatakan bahwa kata santri berasal dari bahasa
Jawa, dari kata “cantrik”, yang berarti seseorang yang selalu mengikuti
seorang guru kemana guru itu pergi menetap.
Sedangkan secara istilah, Husein Nasr mendefinisikan
pesantren dengan sebutan dunia tradisional Islam. Maksudnya, pesantren adalah
dunia yang mewarisi dan memelihara kontinuitas tradisi Islam yang dikembangkan
ulama’ (kiai) dari masa ke masa, tidak terbatas pada periode tertentu dalam
sejarah Islam[5]
Di Indonesia, istilah pesantren lebih populer dengan
sebutan pondok pesantren. Lain halnya dengan pesantren, pondok berasal dari
bahasa Arab funduq, yang berarti hotel, asrama, rumah, dan tempat
tinggal sederhana.Dari terminology diatas, mengindikasikan bahwa secara
kultural pesantren lahir dari budaya Indonesia. Mungkin dari sinilah Nur Cholis
Majid berpendapat bahwa secara historis, pesantren tidak hanya mengandung makna
keislaman, tetapi juga makna keaslian Indonesia. Sebab, memang cikal bakal
lembaga pesantren sebenarnya sudah ada pada masa Hindu-Budha, dan Islam tinggal
meneruskan, melestarikan, dan mengislamkannya.
Pesantren, jika disandingkan dengan lembaga pendidikan yang pernah muncul
di Indonesia, merupakan sistem pendidikan tertua saat ini dan dianggab sebagai
produk budaya Indonesia asli. Pendidikan ini semula merupakan pendidikan agama
Islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat Islam di Nusantara pada abad ke-
13. Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur
dengan munculnya tempat – tempat pengajian. Bentuk – bentuk ini kemudian
berkembang dengan pendirian tempat – tempat menginap bagi para pelajar
(santri), yang kemudian disebut pesantren. Meskipun bentuknya masih sangat
sederhana, pada waktu ini pendidikan pesantren merupakan satu – satunya lembaga
pendidikan yang terstruktur, sehingga pendidikan ini dianggab sangat bergengsi.
Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mendalami doktrin dasar islam,
khususnya menyangkut praktek kehuduban keagamaan[6]
Secra subtansial, pesantren merupakan institusi keagamaan yang tidak
mungkin bisa dilepaskan dari masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Lembaga
ini tumbh dan berkembang dari dan untuk masyarakat dengan memosisikan dirinya
sebagai bagian masyarakat dalam pengertiannya yang transformative. Dalam
konteks ini pendidika pesantren pada dasarnya merupakan penididikan yang sarat
dengan nuansah transformasi social.
Pada awal berdirinya, pengabdian pesantren terhadap masyarakat, sesuai
zamannya, berbentuk sangat sederhana dan, bisa di bilang sangat alami.
Pengabdian tersebut diwujudkan, misalnya, dengan “pelayanan keagamaan” kepada
masyarakat, menyediakan wadah bagi sosialisasi anak-anak, dan sebagai tempat
bagi para remaja yang dating dari berbagai daerah yang sangat jauh unutk
menjalanin semacam ”situs peralian” dari fase remaja ke fase selanjutnya[7]
- Pendidikan Pesantren
Pesantren
merupakan lembaga keagamaan yang sarat nilai dan tradisi luhur yang telah
menjadi karakteristik pesantren pada hampir seluruh perjalanan sejarahnya.
Secara potensial, karakteristik tersebit memilki peluang cukub besar untuk
dijadikan dasar pijakan dalam rangka mnyingkapi globalisasi dan persoalan –
persoalan lain yang menghadang pesantren, secara khsus, dan masyarakat luas,
secara umum. Misalnya kemandirian, keihlasan, kesederhanaan: ketiganya
merupakan nilai – nilai yang dapat melepaskan masyarakat dari dampak negative
globalisasi dalam bentuk ketergantungan dan pola hidup konsumerisme yang lambat
tapi pasti akan menghancurkan sendi – sendi kehiduban umat manusia[8]
Pesantren
sebagai lembaga pendidikan kegamaan merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri. Sepanjang sejarah yang
dilaluinya, pesantren terus menekuni pendidikan tersebut dan menjadikannya
sebagai fokus kegian. Dalam mengembangkan pendidikan, pesantren telah
menunjukkan daya tahan yang cukub kokoh sehingga mampu melewati berbagai zaman
dengan beragam masalam yang dihadapinya. Dalam sejarahnya itu pula, pesantren
telah menyumbangkan sesuatu yang tidak kecil bagi islam di negeri ini.
Pesantren tidak dapat berbangga hati dan puas dengan
sekadar mampu bertahan atau terhadab sumbangan yan telah diberikan dimasa lalu.
Signifikansi pesantren bukan hanya terletak pada dua hal tersebut, tapi pada
kontribusinya yang nyata bagi umat islam, secara khusus, dan masyarakat, secara
luas, dimasa kini dan mendatang. Justru kalau kita mau jujur, pertahanan
pesantren ternyata menyimpan berbagai persoalan yang cukub serius. Sebab dalam
realitasnya daya tahan tersebut, pada satu sisi, telah membuat terjadinya pengentalan
romantisme konservatif,dan pada sisi lain, hal itu telah menyeret pesantren
kedalam perubahan yang sekadar “latah” dan tanpa antisipatif.
Tulisan ini mengangkat seputar masalah itu. Unutk
penyandraannya, nilai – nilai plus yang dimiliki pesantren perlu dipapar
terlebih dahulu. Berdasarkan hal tersebut, peran tepat yang harus diemban
pesantren dalam kehiduban kontemporer yang berlangsung dewasa ini mesti
didiskusikan secara arif dan kritis sehingga eksistensi pesantren akan benar –
benar bermakna dalam kehiduban masyarakat dan bangsa dalam konteks kekinian[9]
Hal lain yang
hingga kini masih dimiliki pesantren adalah penekanannya pada nilai – nilai
yang dianutnya seperti kemandiriannya, kesedehanaan, dan keikhlasan. Nilai –
nilai dasar ini dibingkai dengan paradikma yang sangat menekannkan kepada
apresiasi terhadab segala tradisi yang baik sekaligus akomodatif terhadab
bentuk – bentuk reformasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Nilai – nilai yang
cukub kental didunia pesantren ini pada perinsibnya merupakan nilai – nilai
keagamaan otentik yang memiliki benang merah yang kuat dengan kesejarahan, dan
normativitas islam hakiki[10]
Sistem pendidikan
pesantren adalah sistem pendidikan yang paling tepat untuk mencetak
generasi-generasi bangsa yang unggul. Sebab di dalamnya, terdapat tiga unsur
penting dalam pendidikan yang berjalan intens dan selalu berada dalam
pengawasan tenaga pendidik; formal, informal dan non- formal. Sehingga, seorang
siswa yang belajar dalam sebuah pesantren, akan selalu berada dalam titik aman
dan jauh dari kontaminasi keburukan. Karena tiga unsur pendidikan yang dijalani
kental dengan hawa reliji.
Namun, pesantren beberapa
dekade terakhir sering dikritisi karena dianggap hanya mampu mencetak
ulama-ulama bersarung saja. Legitimasi yang melekat pada pesantren pada
akhirnya adalah hanya sebagai lembaga pendidikan konservatif yang tidak bisa
mengikuti arus perkembangan zaman. Bahkan yang lebih menyedihkan, pesantren
dianggap sebagai wadah untuk memupuk jiwa fanatisme, baik fanatisme politik,
madzhab atau ritual.
Maka ke
depan, pesantren diharapkan mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Harus
selalu eksklusif; terbuka terhadap hal-hal baru. Sehingga ranah pengajarannya
tidak hanya sebatas pada ilmu-ilmu agama saja, tapi juga meliputi ilmu-ilmu
umum. Demikian itu adalah upaya realisasi dari falsafah; Al-Muhafadzatu ala
al-qodim as-shalih, wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah.
Pesantren
yang telah dengan baik menerapkan falsafah di atas, akan dengan mudah mengikuti
globalisasi zaman yang semakin tak terelakkan. Sehingga alumni-alumninya pun
tidak hanya bersarung dan selalu identik di masjid, namun juga bisa mengisi
seminar di gedung-gedung megah atau cerdas dalam menyelesaikan
persoalan-persoalan yang ada, baik sosial, politik, ekonomi ataupun pendidikan.
Kriteria
alumni yang intelek adalah alumni yang memiliki kapabilitas sebagai berikut;
produktif menulis, lihai retorika, dan ahli metodologi. Ulama-ulama Islam
klasik, pada zaman Abbasiyah dahulu adalah teladan elegan tentang bagaimana
seorang alumni pesantren harus membentuk dirinya. Tokoh-tokoh Islam abad itu
tidak hanya sekedar ahli agama, mereka juga menguasai berbagai cabang ilmu,
baik kedokteran, filsafat, logika dan sebagainya. Dan yang lebih penting,
mereka produktif dalam menulis, sehingga sampai sekarang, warisan keilmuan
mereka tetap abadi.
Begitu halnya
dengan retorika, kemampuan dalam berdakwah dan menyampaikan berbagai macam ilmu
yang dikuasainya. Tanpa keterampilan beretorika, seorang ulama akan kesulitan
mengakses ilmu-ilmunya pada umat. Dan yang terakhir adalah metodologi, yaitu
kegemaran untuk terus belajar dan menelaah berbagai macam ilmu, sebagai
pengamalan dari pepatah “never old to learn”.
Tidak cukup hanya tiga kriteria saja, melainkan harus ditopang dengan akhlak yang mulia. Karena apalah arti ilmu yang dimiliki, jika akhlak belum menghiasi hati. Dan salah satu dari pengejawantahan akhlak yang mulia yang paling mendapat sorotan, adalah toleransi dan menghargai perbedaan. Tidak fanatik dengan golongan tertentu, selalu moderat serta menyikapi semua perbedaan dengan cerdas. Islam telah menanamkan bahwa perbedaan yang ada adalah bentuk kasih sayang Tuhan. Sebab manusia memang diciptakan dengan potensi dan naluri yang berbeda-beda, sehingga ulama intelek juga harus pandai menyikapi perbedaan, tidak serta merta mengklaim kafir pada komunitas tertentu yang berbeda darinya.
Tidak cukup hanya tiga kriteria saja, melainkan harus ditopang dengan akhlak yang mulia. Karena apalah arti ilmu yang dimiliki, jika akhlak belum menghiasi hati. Dan salah satu dari pengejawantahan akhlak yang mulia yang paling mendapat sorotan, adalah toleransi dan menghargai perbedaan. Tidak fanatik dengan golongan tertentu, selalu moderat serta menyikapi semua perbedaan dengan cerdas. Islam telah menanamkan bahwa perbedaan yang ada adalah bentuk kasih sayang Tuhan. Sebab manusia memang diciptakan dengan potensi dan naluri yang berbeda-beda, sehingga ulama intelek juga harus pandai menyikapi perbedaan, tidak serta merta mengklaim kafir pada komunitas tertentu yang berbeda darinya.
Dan mimpi
untuk mencetak ulama-ulama intelek yang moderat, tidak fanatik dan menghargai
perbedaan itu harus selalu diupayakan. Di antaranya dengan; pembenahan
kurikulum, penyediaan berbagai macam literatur di perpustakaan, dan tenaga
pengajar.
Pertama, kurikulum yang diterapkan tidak semestinya terfokus pada satu madzhab tertentu. Santri diberi kebebasan untuk memilih apa yang ia yakini benar. Kedua, penyediaan berbagai macam buku, sehingga santri akan mengetahui betapa dunia ini dipenuhi dengan berbagai perbedaan. Baik perbedaan madzhab, suku, bahasa dan lain sebagainya. ketiga, adalah mempersiapkan tenaga pengajar, yang juga moderat. Yaitu guru yang selalu menghargai perbedaan dan tidak fanatik[11]
Pertama, kurikulum yang diterapkan tidak semestinya terfokus pada satu madzhab tertentu. Santri diberi kebebasan untuk memilih apa yang ia yakini benar. Kedua, penyediaan berbagai macam buku, sehingga santri akan mengetahui betapa dunia ini dipenuhi dengan berbagai perbedaan. Baik perbedaan madzhab, suku, bahasa dan lain sebagainya. ketiga, adalah mempersiapkan tenaga pengajar, yang juga moderat. Yaitu guru yang selalu menghargai perbedaan dan tidak fanatik[11]
G. Ciri
– ciri Pendidikan Pesantren
Ciri – ciri pendidikan
pesantren dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
a. Adanya
hubungan yang akrab antara santri dengan kiainya. Kyai sangat memperhatikan
santrinya. Hal ini dimungkinkan karna mereka sama – sama tinggal dalam satu
komplek dan sering bertemu baik disaat – saat belajar maupun dalam pergaulan
sehari – hari. Bahkan, sebagai santri diminta menjadi asisten kyai.
b. Kepatuhan
santri kepada Kyai. Para santri menganggab bahwa menentang kyai, selain tidak
sopan juga dilarang agama, bahkan tidak memperoleh berkah karena durhaka
kepadanya sebagai guru.
c. Hidub
hemat dan sederhana benar – benar diwujutkan dalam lingkungan pesantren. Hidub
mewa hampir tidak didapatkan dilingkungan pesantren. Bahkan sedikit santri yang
hidubnya terlalu sederhana atau terlalu hemat sehingga kurang memperhatikan
pemenuhan gizi
d. Kemandirian
sangat terasa dipesantren. Para santri mencuci pakean sendiri, membersihkan
kamar tidur sendiri, dan memasak sendiri.
e. Jiwa
tolong – menolong dan suasana persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah) sangat mewarnai
pergaulan dipesantren. Ini disebabkan selain kehidupan yang merata dikalangan
santri, juga karna mereka harus mengerjakan pekerjaan – pekerjaan yang sama,
seperti shalat berjamaah, membersihkan masjid dan ruangan belajar bersama.
f. Disiplin
sangat dianjurkan. Untuk menjaga kedisiplinan inipesantren biasanya memberikan
sanksi – sanksi edukatif
g. Keprihatinan
untuk mencapai tujuan mulia. Hal ini sebagai akibat kebiasaan puasa sunnah,
zikir, dan i’tikaf, shalat tahajut, dan bentuk – bentuk riyadloh lainnya
atau menauladani kyainya yang menonjolkan sikab zuhd.
h. Pemberiaan
ijazah, yaitu pencantuman nama dalam suatu daftar rantai pengalihan pengetahuan
yang diberikan kepada santri – santri yang berprestasi. Ini menandakan perkenan
atau restu Kyai kepada murit atau santrinya untuk mengajarkan sebuah kitab
setelah dikuasia penuh.
Ciri – ciri diatas
mnggambarkan pendidikan pesantren dalam bentuk yang masuh murni (tradisional).
Adapun penampilan pendidikan pesantren sekarang yang lebih beragam merupakan
akibat dinamika dan kemajuan zaman telah mendorong terjadinya perubahan terus –
menerus, sehingga lembaga tersebut melakukan berbagai adobsi dan adaptasi
sedemikian rupa. Tegasnya tidak relefan jika ciri – ciri pendidikan pesantren
murni diatas dilekatkan kepada pesantren – pesantren yang telah mengalami
pembaharuan dan pengadobsian sistem pendidikan moderen[12]
H. Dinamika
pesantren.
Dalam perspektif sejarah,
lembaga pendidikan yang terutama berbasis di pedesaan ini telah mengalami
perjalanan sejarah yang panjang, sejak sekitar abad ke-18 bahkan ada yang
mengatakan sejak abad ke-13. Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan
ini semakin teratur dengan munculnya tempat-tempat pengajian. Bentuk ini
kemudian berkembang dengan pendirian tempat-tempat menginap bagi para pelajar
(santri), yang kemudian disebut pesantren Pesantren pertama didirikan oleh
Syekh Maulana Malik Ibrahim Meskipun bentuknya masih sangat sederhana, pada
waktu itu pendidikan pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang
terstruktur. Sehingga pendidikan ini dianggap sangat bergengsi. Di lembaga
inilah kaum muslimin Indonesia mendalami doktrin dasar Islam, khususnya
menyangkut praktek kehidupan keagamaan.
Lembaga ini semakin berkembang pesat
dengan adanya sikap non kooperatif para ulama terhadap kebijakan “politik etis”
pemerintah kolonial Belanda dengan memberikan pendidikan modern, termasuk
budaya barat. Namun pendidikan yang diberikan sangat terbatas, hanya sekitar 3%
penduduk Indonesia. Berarti sekitar 97% penduduk Indonesia buta huruf. Sikap
para ulama tersebut dimanifestasikan dengan mendirikan pesantren di daerah-daerah
yang jauh dari kota untuk menghindari intervensi Belanda serta memberi
kesempatan kepada rakyat yang belum mendapat pendidikan.
Pada tahun 1860-an, jumlah pesantren
mengalami peledakan jumlah yang sangat signifikan, terutama di Jawa yang
diperkirakan 300 buah. Perkembangan tersebut ditengarai berkat dibukanya
terusan Suez pada 1869 sehingga memungkinkan banyak pelajar Indonesia mengikuti
pendidikan di Mekkah. Sepulangnya ke kampung halaman, mereka membentuk le,baga
pesantren di daerahnya masing-masing.
Pada era 1970-an, pesantren mengalami
perubahan yang sangat signifikan yang tampak dalam beberapa hal. Pertama,
peningkatan secara kuantitas terhadap jumlah pesantren. Tercatat di Departemen
Agama, bahwa pada tahun 1977, ada 4.195 pesantren dengan jumlah santri sebanyak
667.384 orang. Jumlah tersebut meningkat menjadi 5.661 pesantren dengan 938.397
orang santri pada tahun 1981. kemudian jumlah tersebut menjadi 15.900 pesantren
dengan jumlah santri sebanyak 5,9 juta orang pada tahun 1985. Kedua,
menyangkut penyelenggaraan pendidikan. Perkembangan bentuk-bentuk pendidikan di
pesantren tersebut diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:
1.
Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal
dengan menerapkan kurikulum nasional, baik yang hanya memiliki sekolah
keagamaan maupun yang juga memiliki sekolah umum. Seperti Pesantren
Denanyar Jombang, Pesantren Darul Ulum Jombang, dan lain-lain.
2.
Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan
agama dalam bentuk Madrasah Diniyah, seperti Pesantren Lirboyo Kediri,
Pesantren Ploso Kediri, Pesantren Sumber Sari Kediri, dan lain sebagainya.
3.
Pesantren yang hanya sekedar
manjadi tempat pengajian, seperti Pesantren milik Gus Khusain
Mojokerto.
2.
Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan
dalam bentuk Madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum meski tidak
menerapkan kurikulum nasional. Dengan kata lain, ia mengunakan kurikulum
sendiri. Seperti Pesantren Modern Gontor Ponorogo, dan Darul Rahman Jakarta.
kurikulum sendiri. Seperti Pesantren Modern Gontor Ponorogo, dan Darul Rahman
Jakarta.
Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa beberapa
pesantren ada yang tetap berjalan meneruskan segala tradisi yang diwarisinya
secara turun temurun, tanpa ada perubahan dan improvisasi yang berarti, kecuali
sekedar bertahan. Namun ada juga pesantren yang mencoba mencari jalan sendiri,
dengan harapan mendapatkan hasil yang lebih baik dalam waktu singkat. Pesantren
semacam ini adalah pesantren yang kurikulumnya berdasarkan pemikiran akan
kebutuhan santri dan masyarakat sekitarnya.
Meskipun demikian, semua perubahan itu, sama sekali tidak
mencerabut pesantren dari akar kulturnya. Secara umum pesantren tetap memiliki
fungsi-fungsi sebagai: (1) Lembaga pendidikan yang melakukan transfer ilmu-ilmu
pengetahuan agama (tafaqquh fi addin) dan nilai-nilai islam (Islamic
values). (2) Lembaga keagamaan yang melakukan kontrol sosial (social
control). (3) Lembaga keagamaan yang melakukan rekayasa sosial (Social
engineering). Perbedaan-perbedaan tipe pesantren diatas hanya berpengaruh
pada bentuk aktualisasi peran-peran ini.
I. Kesimpulan
Pesantren
bukan museum purba tempat di mana benda-benda unik dan kuna disimpan dan
dilestarikan. Juga bukan penjara di mana tindakan dan pikiran dikontrol dan
dikendalikan habis-habisan. Pesantren adalah "laboratorium" tempat
segala jenis dan aliran pemikiran dikaji dan diuji ulang. Di dalamnya, tak ada
lagi yang perlu ditabukan apalagi dikuduskan. Semuanya terbuka untuk diragukan
dan dipertanyakan.
Pendidikan pesantren
adalah pendidikan yang paling tepat untuk mencetak generasi-generasi bangsa
yang unggul. Sebab di dalamnya, terdapat tiga unsur penting dalam pendidikan
yang berjalan intens dan selalu berada dalam pengawasan tenaga pendidik.
1. Formal
2. informal
dan
3. non-
formal.
Sehingga, seorang siswa
yang belajar dalam sebuah pesantren, akan selalu berada dalam titik aman dan
jauh dari kontaminasi keburukan. Karena tiga unsur pendidikan yang dijalani
kental dengan hawa reliji.
DAFTAR PUSTAKA
A’la, Abd, “Pembaruan Pesantren”, cet I.
(Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara, 2006)
Abdullah, Taufik, “Islam
dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia”, cetakan 1, (Jakarta: LP3ES,
1987)
Daradjat, Dr. Zakiyah, “Ilmu Jiwa Agama”, (Jakarta: Bulan Bintang,
1979)
Muryono, Sigit, HS,
Mastuki, Safe’I, Imam, Masyhud, Sulthon, Khusnuridho, Moh., “Menejemen
Pondok Pesantren” , (Jakarta: Diva Pustaka, 2003)
Shofan, Moh., “Pendidikan
Berparadigma Profetik”, (Jogjakarta: IRCio, D2004)
Yasmadi, “Modernisasi Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap
Pendidikan Islam Tradisional”, (Jakarta: Ciputat Press. 2002)
http://id.wikipedia.org/wiki/pendidikan
[1] Sigit
Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulthon Masyhud, Moh. Khusnuridho, “Menejemen
Pondok Pesantren” , (Jakarta: Diva Pustaka, 2003) h. 1 - 2
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/pendidikan /21:47 / 20-12-2012
[3] Moh. Shofan, “Pendidikan Berparadigma
Profetik”, (Jogjakarta: IRCio, D2004) h. 15 – 16
[5] Yasmadi, “Modernisasi
Pesantren, Kritik Nur Cholis Madjid Terhadap
PendidikanIslam Tradisional”, (Jakarta: Ciputat Press. 2002) h. 36
[6] Sigit
Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I, Sulthon Masyhud, Moh. Khusnuridho, “Menejemen
Pondok Pesantren” , (Jakarta: Diva Pustaka, 2003) h. 1 - 2
[7] Taufik Abdullah, “Islam dan Masyarakat:
Pantulan Sejarah Indonesia”, cetakan 1, (Jakarta: LP3ES, 1987), h 111
[9] Ibid. h 15 - 16
[10] Ibid. h 19
[12] Sigit Muryono, Mastuki HS, Imam Safe’I,
Sulthon Masyhud, Moh. Khusnuridho, “Menejemen Pondok Pesantren” , (Jakarta: Diva Pustaka, 2003) h. 93 - 94
Tidak ada komentar:
Posting Komentar