BAB I
PNDAHULUAN
PNDAHULUAN
A. Latar Belakang
Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari proses
mental dan perilaku
pada manusia. Perilaku
manusia akan lebih mudah
dipahami jika kita
juga memahami proses
mental yang mendasari perilaku tersebut. Demikian juga
kita akan lebih mudah memahami perilaku siswa jika kita
memahami proses mental
yang mendasari perilaku
siswa tersebut. Mengingat pentingnya pemahaman tentang proses mental tersebut, maka dalam
bab I ni akan dijelaskan
beberapa akfivitas atau
proses mental yang
umum terjadi pada manusia, khususnya
yang berkaitan dengan
proses belajar mengajar.
Proses mental juga sering
disebut dengan gejala jiwa.
B. Rumusan Masalah
1.
Ada berapa pembagian gejala jiwa itu?
2.
Bagaimana penjelasan mengenai
gejala jiwa?
3.
Ciri-ciri dan syarat kognisi?
4.
Apa pengertian dari emosi?
5.
Apa pengertian dari konasi atau
kemauan?
6.
Sebutkan Ciri-ciri Gejala
Campuran?
C.
Tujuan Masalah
1. Mengerti dan mengenal tentang gejala jiwa.
2.
Mengetahui Syarat Dari Kognisi
Beserta Ciri-cirinya.
3.
Memahami dan mengetahui dari
emosi/perasaan.
4.
Mengetahui dan memahami apa
konasi/Kemauan.
5.
Mengetahui dan memahami
gejala-gejala jiwa campuran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Gejala Jiwa Kognisi
(pengenalan)
Istilah cognitive berasal dari
kata cognition yang padanan katanya knowing, berarti
mengetahui. Dalam arti
luas, cognition (kognisi)
ialah perolehan, penataan, dan
penggunaan pengetahuan. Dalam
perkembangan selanjutnya,
istilah kognitif menjadi
populer sebagai salah
satu domain atau wilayah/ ranah psikologis manusia yang meliputi setiap peilaku mental yang berhubungan dengan
pemahaman, pertimbangan, pengolahan
informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan.[1]
Pengamatan merupakan proses belajar mengenal
segala sesuatu yang ada di sekitar
kita dengan menggunakan
alat indera kita. Panca
indera dimiliki baik oleh
manusia maupun hewan.
Namun, Allah menganugerahi manusia dengan
suatu fungsi lainnya
yang sangat penting
dan membedakannya dari hewan-hewan yang lain, yaitu akal budi. Dengan
akal budi, manusia mampu meningkatkan daya tanggapnya tentang hal-hal yang
bisa diindera. Dengan
akal budi pulalah
manusia mampu menjadikan keindahan penciptaan
alam semesta seluruhnya
dan penciptaan manusia sendiri, sebagai bukti adnya Sang
Pencipta.[2]
Proses Pengamatan
a.
Harus ada perhatian yang ditujukan
kepada perangsang
b.
Ada perangsang yang mengenai alat
indera kita
c.
Ada alat indera syang menangkap
perangsang
d.
Ada urat syaraf yang membawa
perangsang ke otak
e.
Ada otak yang menyadarinya.[3]
2.
Tanggapan
Tanggapan sebagai
salah satu fungsi
jiwa yang pokok,
dapat diartikan sebagai gambaran
ingatan dari pengamatan,
ketika objek yang diamati
tidak lagi berada dalam
ruang dam waktu
pengamatan. Jadi, jika proses
pengamatan sudah berhenti,
dan hanya tinggal
kesan-kesannya saja, peristiwa
demikian ini disebut tanggapan.
Tanggapan disebut “laten” (tersembunyi, belum
terungkap), apabila tanggapan tersebut ada di bawah sadar, atau tidak kita
sadari, dan suatu saat bisa
disadarkan kembali. Sedang
tanggapan disebut “aktual”,
apabila tanggapan tersbut kita sadari.[4]
Perbedaan antara tanggapan dan pengamatan:
1.
Pengamatan terikat pada tempat dan
waktu, sedang pada tanggapan tidak terikat waktu dan tempat.
2.
Objek pengamatan sempurna dan
mendetail, sedangkan objek tanggapan tidak mendetail dan kabur.
3.
Pengamatan memerlukan perangsang,
sedang pada tanggapan tidak perlu ada rangsangan.
4.
Pengmatan bersifat sensoris,
sedang pada tanggapan bersifat imaginer.[5]
Reproduksi dan Asosiasi
Reproduksi ialah
pemunculan tanggapan dari
keadaan di bawah sadar (tidak disadari) ke dalam keadaan
disadari. Ketika mengingat kembali suatu
yang telah kita
amati dan kita
alami. Reproduksi juga dapat
terjadi, oleh karena adanya
perangsang atau pengaruh
dari luar. Reproduksi
juga dapat muncul dengan
sendirinya atau tidak
dengan sengaja, dan
tidak bersebab, jadi secara spontan muncul dalam kesadaran.
Asosiasi tanggapan
ialah sangkut paut
antara tanggapan yang
satu dengan yang lain
di dalam jiwa.
Tanggapan yang berasosiasi
berkecenderungan untuk mereproduksi,
artinya apabila yang
satu disadari, maka yang lain
ikut disadari pula.[6]
Asosiasi ini
banyak terdapat pada
muballigh, khutoba’, penceramah, novelis, pengarang, penulis buku.
Seperti halnya KH. Abdurrahman Wahid, beliau
memiliki asosiasi yang
sangat baik dan
mengagumkan. Dalam satu hari, beliau dapat berpidato di 5 tempat
dengan topik yang berbeda, tentang agama, sosial, politik, sastra dan lainnya.[7]
3.
Fantasi
Fantasi adalah
daya jiwa untuk
membentuk atau mencipta tanggapan-tanggapan baru dengan
bantuan tanggapan yang sudah ada.[8]
Jenis Fantasi:
a.
Fantasi Mencipta
Fantasi yang terjadi
atas inisiatif atau
kehendak sendiri, tanpa bantuan
orang lain atau jenis
fantasi yang mampu
menciptakan hal-hal baru. Fantasi
macam ini biasanya lebih banyak dimilki oleh para seniman, anak-anak, dan para
ilmuwan.
b.
Fantasi Tuntunan atau Terpimpin
Fantasi yang terjadi dengan bantuan pimpinan atau tuntunan orang
lain. Dalam hal
ini misalnya kalau
kita sedang membaca
buku, kita mengikuti pengarang
buku itu dalam ceritanya.[9]
Fungsi Pokok Fantasi
1.
Fantasi mengh-abstrahir
(mengabstraksi)
Fantasi dengan menyaring atau memisahkan sifat-sifat tertentu dari
tanggapan yang sudah ada. Misalnya
anak yang belum
pernah melihat gurun pasir,
maka dalam berfantasi,
dibayangkan dengan seperti lapangan tanpa
pohon-pohon disekitarnya dan
tanahnya malulu pasir semua bukan rumput.
2.
Fantasi Mengkombinir
Fantasi dengan mengabungkan dua atau lebih tanggapan-tanggapan
yang sudah ada,
disusun menjadi satu
tanggapan baru. Misalnya:
Tanggapan badan singa + kepala manusia = Spinx di kota Mesir
3.
Fantasi Mendeterninir
Fantasi dimana tanggapan
lama dilengkapi, disempurnakan
dan mendapatkan ketentuan yang
lebih jelas dan
terbatas sehingga tercipta tanggapan baru.[10]
4.
Daya Ingatan
Ingatan
(memory) ialah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksi
kesan-kesan.[11]
Sifat-Sifat Ingatan
Sifat Daya
ingatan itu tidak
sama pada tiap
orang, oleh karena itu, sifat daya ingatan dibedakan menjadi:
1.
Ingatan yang
mudah dan cepat:
orang yang memiliki
daya ingatan inidnegan cepat dan
mudah menyimpan dan mencamkan kesan-kesan.
2.
Ingatan yang luas dan teguh:
sekaligus seseorang dapat menerima banyak kesan dan dalam daerah yang luas
3.
Ingatan yang setia: kesan yang
telah diterimanya itu tetap tidak berubah, tetap sebagimana waktu menerimanya.
4.
Ingatan yang
patuh: kesan-kesan yang
telah dicamkan dan
disimpan itu dengan cepat dapat
direprodusir.[12]
Ada daya ingatan khusus yang luar biasa dan mengagumkan, misalnya:
-
Para huffadz,
yang hafal 30 juz Al-Qur’an
diluar kepala, lebih mengagumkan lagi jika yang hafal adalah
orang-orang buta.
-
Dr. Ruckle
(Jerman), seorang ahli
ilmu pasti, dengan
mudah dapat mengulangi 60 angka
menurut urutannya yang hanya sekali didengarnya.
-
Mozart, seorang
penggubah musik termasyhur,
ketika ia masih
berumur 14 tahun, dapat
menuliskan sebuah orkes
dan nyanyian bersama
yang sangat panjang dan luas dan baru didengarnya sekali.
Di samping
itu, prestasi ingatan
berhubungan erat dengan
kondisi jasmani, misalnya kelelahan,
sakit, kurang tidur
juga dapat menurunkan daya ingatan. Ingatan berhubungan
pula dengan emosi
seseorang. Ketika seseorang akan
mengingat sesuatu lebih baik, apabila peristiwa-peristiwa itu menyentuh perasaan.
Sedang kejadian yang
tidak mneyentuh emosi, diabaikan saja.
Juga masalah-masalah yang
kita pahami benar
dan sudah dipertimabngkan baik-baik,
akan lebih melekat dalam ingatan.[13]
5.
Berfikir
Proses menerima,
menyimpan, dan mengolah
kembali informasi, (baik informasi
yang didapat lewat
pendengaran, penglihatan atau penciuman) biasa disebut
"berfikir". Berfikir adalah media untuk menambah perbendaharaan/khazanah otak
manusia. Manusia memikirkan
dirinya, orang-orang di sekitarnya dan alam semesta.
Dalam berfikir,
seseorang menghubungkan pengertian
satu dengan pengertian
lainnya dalam rangka
mendapatkan pemecahan persoalan
yang dihadapi. Dalam pemecahan
persoalan, individu membeda-bedakan, mempersatukan dan
berusaha menjawab pertanyaan,
mengapa, untuk apa, bagaimana, dimana dan lain sebagainya.[14]
Hal-hal yang berhubungan dengan berfikir:
a.
Pengertian
Ialah hasil
proses berfikir yang
merangkum sebagian dari kenyataan yang
dinyatakan dengan satu
perkataan. Dalam hal
ini misalnya pengertian “sepeda” merangkum segala jenissepeda yang kita
ketahui, dan kita
menyatakannya dengan satu
perkataan yaitu “sepeda”.[15]
Pengertian itu
dibagi menjadi pengertian
konkrit dan pengertian abstrak. Pengertian
konkrit misalnya: kursi,
meja, pisau. Sedang pengertian abstrak misalnya: indah,
cantik, jujur dan sebagainya.
b.
Keputusan
Perhatikan ucapan berikut ini:
Rumah itu megah. Bunga itu harum. Kopi itu lezat rasanya.
Dalam ilmu
jiwa, ucapan-ucapan yang
demikian itu dinamakan keputusan. Keputusan
itu menentukan sangkut
paut (hubungan) dengan bantuan bahasa. Jadi “memutuskan” itu
ialah suatu perbuatan berfikir.
c.
Kesimpulan
Ialah keputusan yang diambil
berdasarkan keputusan yang lain. Jadi, kesimpulan adalah keputusan yang
spesifik.
Macam-macam kesimpulan:
1)
Kesimpulan induksi:
kesimpulan yang diambil
dan dimulai dari kenyataan-kenyataan yang khusus dan tiba
pada kaidah-kaidah yang umum.
2)
Kesimpulan deduksi:
kesimpulan yang diambil,
dimulai dari kenyataan atau
kaidah-kaidah yang umum
menuju kenyataan-kenyataan
khusus.
3)
Kesimpulan analogi:
kesimpulan yang diambil
dengan cara membandingkan hal-hal
yang baru dengan
hal-hal lama yang telah diketahui. Kesimpulan ini ditarik
dari khusus ke khusus.
6.
Intelligensi
Intelligensi ialah
kesanggupan rohani untuk
menyesuaikan diri
kepada situasi yang baru dengan
menggunakan berfikir menurut tujuannya. Kapankah seseorang
dikatakan berbuat intelligen?
Seseorang dapat dikatakan berbuat
intelligen kalau dalam
situasi tertentu, ia
dapat berbuat dengan cara-cara
yang tepat. Artinya,
ia dapat memecahkan
kesulitan-kesulitan,
soal-soal yang terdapat
dalam situasi itu.
Dengan kata lain,
ia dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang baru itu.[16]
B. Gejala Jiwa Konasi (Kemauan)
Kemauan
merupakan salah satu
dari fungsi kejiwaan manusia, dapat diartikan aktifitas
psikis yang mengandung
usaha aktif dan
berhubungan dengan pelaksanaan suatu tujuan. Tujuan adalah titik akhir
dari gerkana yang menuju suatu arah. Adapun tujuan kemauan adlah pelaksanaan
suatu tujuan-tujuan mana, harus diartikan dalm suatu hubungan.
Dalam istilah sehari-hari
kemauan dapat disamakan dengan kehendak atau
hasrat. Kehendak isalah
suatu fungsi jiwa
untuk dapat mencari
sesuatu. Kehendak ini merupakan
kekuatandari dalam. Dan
tampak dari luar
sebagai gerak-gerik.[17]
Dalam
berfungsinya kehendak ini
bertautan dengan pikiran
dan perasaan. Untuk dapat mempelajarinya dibagi atas:
a.
Dorongan
b.
Keinginann
c.
Hasrat
d.
Kecenderungan
e.
Hawa nafsu
f.
Kemauan
Pribadi
memberikan corak dan
menentukan, sesudah memilih
dan mengambil keputusan. Perbuatan
memilih dan mengambil
keputusan ini disebut dengan
keputusan kata hati.
Proses
kemauan untuk mencapai
proses tindakan biasanya
melalui bebrapa tingkat, ialah:[18]
a.
Motif (alasan, dasra, dan
pendorong)
b.
Perjuangan motif.
Sebelum mengambil keputusan,
pada batin biasanya
ada beberapa motif, yang
bersifat luhur dan
rendah. Disisni nerlangsung
suatu pemilihan.
c.
Keputusan. Inilah
yang sangat penting.
Disini kita mengadakan
pemilihan antara motif-motif tersebutdan meninggalkan kemungkinan yang
lain, sebab tak mungkin kita
punya macam-macam keinginan
dan pada waktu
yang sama.
d.
Perbuatan kemauan.
Kalau sudah mengambil
keptusan, maka bertindak sesuai dengan keputusan yang
diambil. Tetapi itu sering sangat sukar.
Adapun gejala hasrat juga
terbagi menjadi beberapa macam, yaitu:
Gejala hasrat ini
berhubungan dengan gerak
dan perbuatan yang berpusat
pada kejasmanian. Di
antara gejala hasrat ini
ada yang terdapat pada tumbuh-tumbuhan, binatang pada
manusia.
a.
Tropisme
Adanya peristiwa
yang menyebabkan timbulnya
gerak ke suatu arah
tertentu. Gejala tropisme
terdapat pada barang-barang
tingkat vegetatif
(tumbuh-tumbuhan) dan animal
(binatang). Misalnya bungan menghadap mengarah
sinar matahari, laron
terbang menyongsong sinar, dan
sebagainya. Tropisme terjadi
kalau mendapat perangsang
dari luar semata-mata, jadi tak
ada pendorong dari dalam untuk tujuan tertentu.
b.
Refleks
Reflek adalah gerak reaksi yang tak disadari terhadap perangsang.
Reflek ini dihubungka
dengan konasi yang
rendah tingkatannya, maka refleks boleh dikatakan hgerak refleks,
hukum perbuatan refleks.
1.
Proses terjadinya gerak rfelek
Gerak refleks adalah
di luar kesadaran,
jadio reaksi-reaksi yang ditimbulalkan tidak
bersumber pada pusat
susuna syaraf (otak)
tanpa suatu pertimbangan.
Proses terjadinya gerak
refleks : perangsang panca indra sel-sel syaraf
sensoris urat syaraf motoris reaksi.
2.
Macam-macam refkeks
a)
Reflek bawaan,
yakni eflek yang
dibawa sejak lahir,
disebut pula reflek asli atau
sewajarnya
b)
Reflek latihan,
yakni reflek yang
diperoleh dari pengalaman. Reflek ini
tidak dibawa sejak
lahir, melainkan hasil
daripada pengalaman atau perbuatan yang selalu diulang.
c)
Reflek bersyarata.
Reflek ini tidak
bergantung pada perangsang alam yang
asli tapi timbul
karena perangsang lain
yang berassosiasi dengan rangsangan
alam tersebutsupaya timbul asosiasi dengan
perangsang alam perlu
adanya suatu perantara yang disebut dengan syarata.
Yaitu kemampuan berbuat
tertentu yang dibawa
sejak lahir yaitu tertuju pada pemuasan dorongan-dorongan
nafsu dan dorongan-dorongan lain,
disebut insting. Instink
ini terdapat pada
hewan dan juga
mansia, namun fungsi peranananya tidak sama.
1)
Macam-macam instink :
Instink merupakan dorongan
alami yang bebruat
tertentu demi tercapainya tujuan.
Jadi disisni ada
rangkaian anatara dorongan instink dan
kebutuhan yang menjadi
tujuannya. Pada garis
besarnya dorongan instink dapat digolongkan menjadi :
a.
Dorongan instink mempertahankan
diri,meliputi :
-
Instink
makan
-
Instink
berbafas
-
Bermain
-
Instink
melindungi diri
-
Instink
takut
-
Instink
istirahat
b.
Dorongan instink mempertahankan
jenis, meliputi :
-
Instink
seksual
-
Instink
membela diri
-
Instink
minta tolong
-
Instink
sosial
-
Instink
melindungi
-
Instink memelihara
c.
Dorongan instink mengembangkan
diri, meliputi :
-
Instink belajar
-
Instink menyelidiki
-
Instink ingin takut
d.
Automatisme
Gejala-gejala yang menimbulkan
gerak-gerak terselenggara denga sendirinya, disebut autmatisme.
1)
Automatisme asli : gerak-gerak
automatis yang tidak digerakkan oleh gejala hasrat, mislanya : gerak, ajntung,
paru-paru, dll.
2)
Automatisme latihan
: ialah gerak-gerak
yang berjalan secara automatis karena seringnya gerak-gerak
itu diulang, misalnya berjalan, bersepeda,
main piano, memetik
gitar, menggosok biola,
menulis, mengetik, bercakap-cakap dna sebagainya.
e.
Kebiasaan
Gerak perbuatan yang
berjalan dnegan lancar
dan seolah-olah berjalan dengan
sendirinya, disebut dengan kebiasaan.
f.
Nafsu
Dorongan yang terdapat
pada tiap-tiap manusia
dan memberi kekuataan bertindak
untuk memenuhi kebuthan
hidup tertentu, disebut nafsu.
Nafsu ada pertaliannya
dengan instink, tetepai
nampak keluarnya tidak sama. Namun nampak keluar dalam
berbagai bentuk dan cara.
1)
Macam-macam nafsu :
a)
Nafsu indivudual
(perseoragan), mislanya nafsu
makan, nafsu beramain, nafsu
bertindak, nafsu merusak,
nafsu berkelahi, nafsu berkuasa, dan sebagainya.
b)
Nafsu sosial
(kemasyarakatan), misalnya :
nafsu meniru, nafsu kawin, nafsu berkumpul dengan ornag
lain, dan sebagainya.
2)
Hubungan nafsu dengan perasaan :
Perasaan yang hebat dapat menimbulkan bergeraknya suatu nafsu dan
sebaliknya nafsu kadang-kadang
dapat menimbulkan perasaan
yang hebat, dan ada kalanya kemampuan berfikir dikesampingkan.
3)
Nafsu dan pendidikan :
Nafsu terdapat pada
tiap-tiap orang-orang walaupun
berbeda macam dan tingkatannya.
Kebiasaan-kebiasaan yang baik/positif
dan pengaruh-pengaruh
positif pendidikan yang
sudah tertanam dalam jiwa
sesorang dapat mempengaruhi
nafsu dan pertanyaan-pertanyaan nafsu. Dengan jalan
demikian nafsu dapat diperhalus.
Nafsu yang mempunyai
arah tertentu dan
tuuan tertentu disebut keinginan. Kalau
dorongan sudah menuju
ke arah tujuan
yang nyata/konngkrit dan tertentu, misalnya disitu akan terjadi dorongan
keras dan terarah pada suatu objek tertentu maka nafsu itu disebut keinginan.
Misalnya : nafsu
makan menimbulkan keinginan
untuk makan sesuatu, nafsu
kerja menimbulkan keinginan
untuk mngerjakan sesuatu,dan
sebagainya. Lawan dari keinginan adalah keseganan.
Keinginan-keingina yang sering
munculatau timbul disebut kecenderungan. Kecenderungan
sama dengan kecondongan. Kecenderungan Dapat menimbulkan
dasra kegemaran terhadap sesuatu.
Kecenderungan dapat dibedakan menjadi beberapa golongan :
1)
Kecenderungan vital (hayat),
mislanya lahap, gemar makan, dsb.
2)
Kecenderungan perseorangan,
menimbulkan sifat-sifat loba,
tamak, kikir, egois, dll
3)
Kecenderungan sosial, mislanya :
persahabatan, persaudaraan, berbuat amal, dsb.
4)
Kecenderungan abstrak, yang
positif misalnya : taat pada Tuhan, jujur, patuh, bertanggungjawab, dsb. Yang
negatif misalnya : dusta, bohong, dsb.
i.
Hawa Nafsu
Kecenderungan atau keinginan yang snagt kuat dan mendesak yang
sedikit-sedikit ynag memepengaruhi
jiwa seseorang disebut hawa
nafsu. Dengan timbulnya hawa nafsu seakan-akan keinginan-keinginan yang
lain dikesampingkan, sehingga tinggalsatu
keinginan saja yang
berkuasa dan bergerak dalam
kesadaran. Disamping itu hawa nafsu dicirikan dengan :
-
Perasan
sangat terpengaruh dan daya pikir dapat dilumpuhkan.
-
Biasanya hawa
nafsu disertai timbulnya
kekuatan-kekuatan yang hebat.
Akibat timbulnya hawa nafsu tersebut hidup jasmani dan rohaninya
menjadi kacau dan
terganggu. Hawa nafsu
yang banyak muncul
antara lain : judi, nonton, minuman keras, dsb.
Kemauan adalah dorongan
dari dlamyang lebih
tinggi tingkatannya daripada instink,
refleks, automatisme, kebiasaan,
nafsu, keinginan, kecenderungan dan
hawa nafsu, sekali
lagi ditandaskan bahwa kemauan hanya terdapat pada manusia
saja.
C. Gejala Jiwa Emosi (Perasaan )
Perasaan termasuk
gejala jiwa yang
dimiliki oleh semua
orang dan tingkatannya tidak
sama. Perasaan tidak termasuk gejala mengenal, walaupun demikian, perasaan
sering juga berhubungan dengan gejala mengenal.[24]
Jenis-Jenis Perasaan:
1.
Perasaan-perasaan jasmaniyah:
jenis perasaan ini
sering pula disebut perasaan tingkat rendah yang terbagi
sebagai berikut:
a)
Perasaan sensoris:
yaitu perasaan yang
berhubungan dengan stimulus
terhadap indra, misalnya: dingin, hangat, pahit, asam dan sebagainya.
b)
Perasaan vital:
yaitu perasaan yang
berhubungan dengan kondisi jasmani pada
umumnya, misalnya lelah,
lesu, lemah, segar,
sehat dan sebagainya.[25]
2.
Perasaan-perasaan rohaniah:
sering pula disebut
sebagai perasaan luhur (tingkat tinggi), yang terdiri dari:
a)
Perasaan intelektual:
yaitu perasaan yang
berhubungan dengan kesanggupan
intelektual dalam mengatasi suatu masalah, misalnya: senang atau
puas ketika berhasil
(perasaan intelektual positif), kecewa atau jengkel ketika gagal
(perasaan intelektual negatif).
b)
Perasaan kesusilaan
(etis): yaitu perasaan
yang berhubungan dengan baik-buruk
atau norma, misalnya:
puas ketika mampu melakukan hal
yang baik, atau
menyesal ketika melakukan
hal yang tidak baik.
c)
Perasaan estetis
(keindahan); yaitu perasaan yang
berhubungan dengan
penghayatan dan apresiasi
tentang sesuatu yang
indah tau tidak indah. Perasaan
ini timbul jika seseorang mengamati sesuatu yang indah
atau yang jelek.
Yang indah menimbulkan
perasaan positif, yang jelek menimbulkan perasaan yang negatif.
d)
Perasaan sosial
(kemasyarakatan): yaitu perasaan
yang cenderung untuk mengikatkan
diri dengan orang-orang
lain, misalnya: perasaan cinta
sesama manusia, rasa ingin bergaul, ingin menolong, rasa simpati atau setia
kawan dan sebagainya.
e)
Perasaan harga diri:
yaitu perasaan yang
berhubungan dengan
penghargaan diri seseorang,
misalnya: rasa senang,
puas, dan bangga akibat
adanya pengakuan dan penghargaan
dari orang lain atau sebaliknya.
f)
Perasaan ketuhanan
(religius): yaitu perasaan
yang berkaitan dengan kekuasaan
dan eksistensi dari
Tuhan. Manusia merupakan satu-satunya yang dianugrahkan
perasaan ini oleh Tuhan. Perasaan ini digolongkan pada peristiwa psikis yang
paling luhur dan mulia. Menurut
pandangan filsafat ketuhanan
(theologi) menusia disebut “homo divinans” yaitu manusia
senantiasa memilki kepercayaan terhadap Tuhan dan hal-hal yang bersifat ghaib.
D.
Gejala Jiwa Campuran
Gejala campuran meliputi Perhatian, Sugesti, dan
kelelahan.
1. Perhatian ialah keaktifan
jiwa yang diarahkan pada suatu objek, baik didalam maupun diluar dirinya.
Syarat-syarat agar perhatian mendapat
manfaat sebanyak-banyaknya yaitu :
a. inhibisi yaitu pelarangan atau penyingkiran
isi kesadaran yang tidak diperlukan.
b. Apresepsi yaitu pengesahan dengan
sengaja semua isi kesadaran
c. Adaptasi ( Penyesuain lingkungan )
Macam-macam perhatian
a. perhatian spontan dan sengaja
ialah perhatian yang timbul dengan
sendirinya oleh karena tertarik pada suatu dan tidak didorok kemauan.
b. perhatian statis dan dinamis
Ialah perhatian yang tetap terhadap
sesuatu dan perhatian dinamis ialah perhatian yang mudah berubah-ubah.
c. Perhatian Sensitif dan
distributif
Perhatian sensitif ialah perhatian yang
hanya satu masalah tertentu.
Perhatian distributif ialah perhatian terbagi-bagi.
Faktor dapat mengambil perhatian
a.
Pembawaan
b.
Latihan dan kebiasaan
c.
Kebutuhan
d.
Kewajiban
e.
Keadaan jasmani
f.
Suasana jiwa
g.
Suasana sekitar
h.
Kuat tidaknya dari perangsang dari
objek.
2.
Kelelahan
Ialah gejala berkurangnya manusia untuk
melakukan sesuatu.
Sebab-sebab
kelelahan
a.
Kelelahan disebabkan oleh
pekerjaan jasmani. Misalnya, olahraga.
b.
Kelelahan disebabkan oleh
pekerjaan jiwa. Misalnya, memikirkan masalah yang sulit/pelik.
Macam-macam
kelelahan
a.)
Kelelahan jasmani
b.)
Kelelahan rohani
Hubungan
kelelahan jasmani dan rohani yaitu pekerjaan jasmani dapat menimbulkan
kelelahan jasmani pun dapat menimbulkan kelelahan rohani.
3.
Sugesti
Ialah didesakkan suatu keyakinan kepada
seseorang yang olehnya diterima mentah-mentah.
Sugesti dan sugestibel
a. Sugesti ialah sesuatu yang mempunyai pengaruh sugesti yang besar.
b.
Sugestibel ialah sifat-sifat yang
mudah kena saran/sugesti
-
Cara-cara untuk mensugesti
a.
Dengan membujuk
b.
Dengan memuji
c.
Dengan menakut nakuti
d.
Menunjukkan kekurangan atau
kelebihan.
-
Alat-alat sugesti
a.
Mata
b.
Roman muka
c.
Teladan
d.
Gambar
e.
Suara
f.
Warna
g.
Dan slogan
-
Peranan sugesti
a.
Pimpinan banyak diseganin anak
buahnya
b.
Adanya kepercayaan yang besar pada
pemimpin
c.
Pimpinan akan dihormati, dituntut.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bahwa manusia memiliki
gejala-gejala jiwa yang meliputi:
4. Gejala pengenalan atau kognisi
5. Gejala kehendak atau konasi
6. Gejala perasaan atau emosi
Selain peristiwa
atau gejala jiwa
tersebut, ada gejala
jiwa lainnya yang disebut gejala campuran yaitu:
a. Perhatian
b. Keletihan
c.
Sugesti
Jadi, merupakan hal wajar jika
manusia sering bertindak benar atau pun salah, karena memang sejatinya adalah
manusia telah terbentuk dari berbagai macam gejala kejiwaan dalam hidup mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Syah, Muhibbin,
"Psikologi Belajar", (Jakarta: Rajawali Press, 2009)
Ahmadi, M. Ishom,
"Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah". (Yogyakarta: SJ Press,
2009)
Ahmadi, Abu, "Psikologi
Umum", (Jakarta: Rineka Cipta, 2009)
Ahmadi, M.
Ishom, "Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah". (Yogyakarta: SJ
Press,
2009)
Ahmadi, Abu, “Psikologi
Umum”, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003)
Umar, Muhammad, “psikologi Umum” (Semarang: PT Bina Ilmu,1982)
[1] Muhibbin Syah, "Psikologi Belajar", (Jakarta:
Rajawali Press, 2009) h. 22
[2] M.Ishom Ahmadi, "Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah".
(Yogyakarta: SJ Press,
2009) h. 26-27
[3] M.Ishom Ahmadi, Op-Cit,. h. 29
[4] Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009) h. 68
[5] Abu Ahmadi, Op-Cit,. h. 69
[6] Abu Ahmadi, "Psikologi Umum", (Jakarta: Rineka Cipta,
2009) h. 72-73
[7] M.Ishom Ahmadi, "Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah".
(Yogyakarta: SJ Press,
2009) h. 63
[8] Ibid,. h. 70
[9] M.Ishom Ahmadi, "Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah".
(Yogyakarta: SJ Press,
2009) h. 70
[10] Ibid,. h. 70
[11] Ibid,. h. 73
[12] Ibid,. h. 76
[13] Abu Ahmadi, "Psikologi Umum", (Jakarta: Rineka Cipta,
2003) h. 74-75
[14] Ibid,. h. 83
[15] M.Ishom Ahmadi, "Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah".
(Yogyakarta: SJ Press,
2009) h. 87
[16] M.Ishom Ahmadi, "Ya Ayyatuha An Nafsu Al Muthmainnah".
(Yogyakarta: SJ Press,
2009) h. 91
[17] Abu Ahmadi, “Psikologi Umum”, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003) h.
112
[18] Abu Ahmadi, “Psikologi Umum”, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003) h.
116
[19] Ibid,. h. 115-117
[20] Abu Ahmadi, "Psikologi Umum", (Jakarta: Rineka Cipta,
2003) h. 118-119
[21] Abu Ahmadi, "Psikologi Umum", (Jakarta: Rineka Cipta,
2003) h. 121
[22] Ibid,. h. 122
[23] Abu Ahmadi, "Psikologi Umum", (Jakarta: Rineka Cipta,
2003) h. 122-124
[24] Abu Ahmadi, “Psikologi Umum”, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003) h.
101
[25] Wasti Soemanto, "Psikologi Pendidikan", (Jakarta:
Rineka Cipta, 1998) h. 38
Tidak ada komentar:
Posting Komentar