MAQOMAT WAL AHWAL
Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah Akhlak Tasawuf

Dosen Pengampuh:
Dr. H. Ali
mas’ud, M.Ag.
Oleh:
Bagus Waskito Utomo (D01212006)
Faisal Efendy (D01212012)
Ilmiyah Ningsih (D01212019)
Khusnul Subekti Rahmadiansyah (D01212023)
Lailatun Nuroniyah (D01212026)
Saiful Anam (D01212002)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN
AMPEL SURABAYA FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SURABAYA
2013
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah Allamal
Qur’an Kholaqol Insan Allamahul Bayan, washshalatu wassalamu ’ala Ruslil Anam,
Sayyidina Muhammadin wa ’ala alihi wa shohbihi ila yaumil manam.
Puji syukur kepada Allah
SWT, yang telah menciptakan manusia dan alam seisinya untuk makhluknya serta
mengajari manusia tentang al-qur’an dan kandungannya, yang dengan akal pikiran
sebagai potensi dasar bagi manusia untuk menimbang sesuatu itu baik atau buruk,
menciptakan hati nurani sebagai pengontrol dalam tindak tanduk, yang telah
menciptakan fisik dalam sebagus bagusnya rupa untuk mengekspresikan amal ibadah
kita kepada-Nya. Segala puji bagi Allah sang Maha Kuasa pemberi hidayah, yang
semua jiwa dalam genggaman-Nya, kasih kaming-Mu mulia tak terperi. Rahman dan
Rahim-Nya telah menyertai kami sehingga dapat menyelesaikan penulisan makalah
ini.
Sholawat bermutiarakan
salam senantiasa kita haturkan kepada revolusionar muslim sejati baginda
Muhammad SAW, serta para sahabatnya yang telah membebaskan umat manusia dari
lembah kemusyrikan dan kejahiliyahan menuju alam yang bersaratkan nilai-nilai
tauhid dan bertaburan cahaya ilmu pengetahuan dan kebenaran. Dalam makalah ini
yang berjudul Maqomat wal Ahwal, penulis berupaya semaksimal
mungkin menyajikan makalah dalam bentuk yang mudah dibaca. Namun, penulis
menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan.
Tiada yang dapat kami
ucapkan sebagai balas budi kami selain untaian ucapan terima kasih dan doa,
agar semua amal kebaikan selama ini penuh dengan iringan rahmat dan ridho Allah
SWT. Sehingga dicatat sebagai amalan makbulan’indallah. Amin. Kami berharap
semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan semuanya, khususnya bagi penulis
sendiri.
Surabaya, 27 April 2013
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................... ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I PEMBAHASAN.............................................................................................
A. Pengertian Al Maqomat.............................................................................
1
B. Tingkatan Al Maqomat............................................................................... ...... 1
C. Pengertian Al ahwal........................................................................................... 5
D. tingkatan Al
ahwal............................................................................................ 5
BAB II PENUTUP..................................................................................................... 9
A. Kesimpulan....................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 10
BAB 1
PEMBAHASAN
A. Pengertian Al Maqomat.
Secara harfiah Maqamat berasal
dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah
ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh
oleh seorang sufi untuk berada dekat kepada Allah. Dalam bahasa inggris Maqamat
dikenal dengan istilah stages yang artinya tangga. Sedangkan dalam ilmu tasawuf
maqamat berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang
telah diusahakan, baik melalui Riyadhah, Ibadah, maupun mujahadah.
B.
Tingkatan Al Maqomat
- Zuhud
Secara harfiah
zuhud berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian. Menurut
pandangan para sufi zuhud yaitu suatu sikap melepaskan diri dari rasa
ketergantungan terhadap kehidupan dunia dan mendekatkan diri kepada kehidupan
akhirat.[1]
Zuhud merupakan tapak kaki awal bagi mereka yang hendak menuju kepada Allah
Azza Wa Jalla, yang mencurahkan segala-galanya hanya untuk mencari ridho
Allah dan bergantung pada Allah. Sebab cinta dunia merupakan pangkal segala
kekeliruan,sedangkan menjauhkan diri dari dunia merupakan pangkal segala
kebaikan dan ketaatan.[2]
Zuhud dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1.
Dengan
cara menjauhkan dunia agar terhindar dari hukuman akhirat
2.
Menjauhi
dunia dengan menimbang imbalan di akhirat
3.
Mengucilkan
dunia bukan karena takut atau berharap, tapi karena dia bener-benar cinta
kepada Allah semata.[3]
Dan pada tingkatan
ketiga inilah yang mampu membukakan tabir antara seorang hamba dengan Allah.
Dikatakan,bahwa seseorang yang disebut dengan nama zuhud dalam masalah duniawi
maka sesungguhnya ia telah disebut dengan seribu nama yang baik, dan barang
siapa yang disebut dengan cinta dunia (tamak) maka ia disebut dangan seribu
nama yang buruk.[4]
Dan menurut pandangan imam al-Ghazali, zuhud terbagi menjadi beberapa
tingkatan:
a.
Zuhud
yang dikaitkan dengan orang yang berzuhud:
1.
As-shufla
: meninggalkan kemewahan dunia tapi sebenarnya hatinya masih cenderung dan
mengingatnya,pada tingkatan ini derajat zuhud paling rendah.
2.
Meninggalkan
kemewahan dunia secara sukarela, karena ia melihat bahwa dunia adalah suatu
kehinaan.
3.
Al-‘Ulya
: ia melihat bahwa dunia ini semata-mata tidak mempunyai nilai apa-apa dan
tidak sepadan dengan apapun, zuhud di tingkatan ini mempunyai derajat yang
paling tinggi.
b.
Zuhud
yang dikaitkan dengan sesuatu yang dicintainya :
1.
Zuhud
karena takut, dimana seseorang hamba melakukan zuhud dikarenakan takut akan
siksa neraka,azab kubur, dan lain sebagainya.
2.
Zuhud
karena mengharap pahala nikmat allah dan kelezatan yang telah di janjikan Allah
di dalam surge.
3.
Dan
derajat yang tertinggi yaitu zuhudnya para arif yang tidak mengharap apa-apa
namun hanya ingin bertemu dengan Allah semata.
c.
Zuhud
yang dikaitkan dengan suatu yang ditinggalkan :
1.
Meninggalkan
segala sesuatu selain Allah
2.
Meninggalkan
segala sesuatu karena nafsu, seperti marah, sombong, riya, ujub, pangkat,
harta, dan lain sebagainya.[5]
Kehidupan yang
sederhana yang di contohkan Rosulullah, Khulafaur Rosidin maupun para sahabat
lainnya terutama Ashabus Suffah dengan kondisi mereka serba kekurangan tetap
mampu menjaga kehormatan dengan tidak meminta, sehingga Allah mengutuk hati
kaum muslimin bagi siapa saja yang memberikan nafkah kepada mereka.[6] Dan inilah yang dipilih oleh Rasulullah untuk
dirinya sendiri sesuai dangan pilihan Allah untuknya. Sementara itu sikap zuhud
adalah berzuhud dari masalah yang halal, sedangkan dalam masalah yang jelas
haram atau syubhat maka meninggalkannya adalah wajib.
Sikap zuhud
sebagaimana telah disebutkan diatas, menurut Harun Nasution, adalah sikap yang
harus ditempuh oleh seorang calon sufi. Sikap ini dalam sejarah pertama kali
muncul ketika terjadi kesenjangan antara kaum yang hidup sederhana dengan para
raja yang hidup dalam kemewahan dan berbuat dosa. Muawiyah misalnya disebut
sebagai raja Roma dan Persia yang hidup dalam kemewahan. Anaknya bernama Yazid
dikenal sebagai pemabuk. Demikian pula dengan khalifah-khalifah Bani Abbas.
Al-Amin misalnya, anak Harun al-Rasyid juga dikenal dalam sejarah sebagai orang
yang kepribadiannya jauh dari kesucian, hingga ibu kandungnya sendiri,
Zubaidah, menyebelah kepihak Al-Ma’mun, ketika antara kedua saudara ini timbul
pertikaian tentang siapa yang menjadi khalifah.[7]
Berkenaan dengan
keadaan demikian itu, maka timbullah sikap zahid. Para zahid Kufahlah yang
pertama kali memakai pakaian kasar sebagai reaksi terhadap pakaian sutera yang
dipakai golongan Mu’awiyah. Mereka itu seperti Sufyan al-Tsauri (w. 135 H), Abu
Hasyim (w. 150 H), dan Jabir Ibn Hasyim (w. 190 H). Di Basrah muncul Hasan
Basri (w. 110 H), dan Rabi’ah al-Adawiyah. Di Persia timbullah Ibrahim Ibn
Adham (w. 162 H) dan muridnya Syafiq al-Balkhi (w. 194 H), dan di Madinah
muncul Ja’far al-Sadig (w. 148).[8]
b.
Sabar
Secara harfiah sabar berarti tabah hati, sedangkan secara
istilah sabar yaitu suatu keadaan jiwa yang kokoh,stabil, konsekuen pada
pendirian. Sabar erat kaitannya dengan pengendalian diri, pengendalian sikap,
dan emosi. Oleh sebab itu sikap sabar tidak bisa tumbuh begitu saja, akan
tetapi harus melalui latihan yang sungguh-sungguh. Menurut pendapat Ibnu
Taimiyah, sabar dalam menjauhi maksiat lebih tinggi tingkatannya dari pada
sabar dalam menghadapi musibah.
Kedudukan
spiritual sabar adalah kedudukan spiritual mulia, karna Allah telah memuji
orang-orang yang bersabar dan menyebutkan merekaa dalam firman-Nya :
………………………………………………………………………………………………..
“ Hanya orang-orang yang bersabar akan di beri pahala kepada mereka yang tiada batas”
“ Hanya orang-orang yang bersabar akan di beri pahala kepada mereka yang tiada batas”
(QS. Az-zumar : 10)
sabar
merupakan kunci sukses orang beriman. Sabar itu seperdua dari iman karena iman
terdiri dari dua bagian. Setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi syukur
baik itu ketika bahagia maupun dalam keadaan susah.[9]
Makna sabar menurut ahli sufi pada dasarnya sama yaitu sikap menahan diri terhadap
apa yang menimpanya. Adapun
orang yang sangat bersabar adalah mereka yang kesabarannya demi Allah, karena
Allah, dan dengan Allah. Orang sabar yang seperti demikian itu, jika seluruh
cobaan menimpanya maka dari segi kewajiban dan hakikat tidak akan melemahkan,namun
ia tetap kuat menghadapinya, sekalipun dalam segi bentuk dan rupa akan berubah.
c.Tawakal
Tawakal
dapat dikatakan sebagai hasil dari sikab sabar. Sehingga bila sabar sudah mampu
ditegakkan, otomatis dia juga bisa dikatakan seorang yang tawakal.
Menurut ibnul Qayyim, ada kesalahan
persepsi tentang tawakal. Dimana dia tidak berbuat sesuatu atau kurang tekun
dalam berjuang untuk sesuatu, kemudian menyerahkan pada Allah. Ini bukan
tawakal, melainkan menelantarkan karunia Allah.
Orang yang tawakal bisa ditandai dengan
selalu menyatunya perasaan tenang dan tentram serta penuh kerelaan atas segala
kerelaan atas segala yang diterimanya. Dia juga selalu merasa optimis dalam
bertindak dan senantiasa memiliki harapan atas segala yang dicita – citakan.[10]
d. Ridhah
Ridha
adalah anugera dari Allah SWT karena orang bisa bersikab tawakal. Dzunnun al
Mishri berpendapat bahwa ridha adalah menerima tawakal dengan sepenuh hati.
Tanda – tanda orang ridha adalah dia menerima hasil dari segala sesuatu yang
dia upayakan dengan ikhlas dan sabar sebelum dating ketentuan, dan tidak merasa
cemas serta resah setelah datangnya ketentuan. Jadi, ridha adalah keadaan
mental seseorang dan kejiwaan yang senantiasa berlapang dada dalam menerima
segala karunia yang diterima, maupun bala’ yang menimpa. Sikab mental
ini adalah merupakan maqom tertinggi yang dicapai oleh orang yang melakukan
latihan spiritual.[11]
C. Pengertian Al Ahwal
Pengertian Ahwal secara Bahasa Al Ahwal
merupakan jamak dari kata tunggal hal yang berarti keadaan atau sesuatu
(keadaan rohani), menurut syekh Abu Nash As-sarraj, hal adalah sesuatu yang
terjadi yang mendadak yang bertempat pada hati nurani dan tidak bertahan lama. Menurut harun nasution, dalam Bukunya
abuddin Nata Akhlak Tasawuf. Hal atau
khwal merupakan keadaan mental perasaan senang, perasaan takut, perasaan
sedih, dan sebagainya. Sedangkan
Menurut imam al Ghozali dalam Bukunya Tim Penyusun MKD Iain Sunan Ampel
urabaya. menerangkan bahwa, hal adalah kedudukan atau situasi kejiwaan yang
dianugrahkan Allah kepada seorang hamba pada suatu waktu, baik sebagai
buah dari amal saleh yang mensucikan
jiwa atau sebagai pemberian semata.
D. Tingkatan Al Ahwal
a. Al- Muraqabah
Muraqabah adalah kesadaran diri bahwa kita selalu
berhadapan dengan Allah dalam keadaan apapun dan Dialah yang selalu mengawasi
apapun yang kita lakukan. Adapun muraqabah bagi seorang hamba adalah
pengetahuan dan keyakinannya, bahwa Allah selalu melihat apa yang ada dalam
hati nuraninya dan Maha Mengetahui. Maka, dalam kondisi demikikian ia terus
meneliti dan mengoreksi bersitan-bersitan hati atau pikiran-pikiran tercela
yang hanya akan menyibukkan hati sehingga lupa untuk mengingat tuhannya.
Dalam firman-Nya:
…………………………………………………………………………………….
“ Apakah mereka
tidak mengetahui, bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan hati mereka, dan
bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala yang ghaib ”(QS.At-taubah : 78)
Muraqabah memiliki
dua tingkatan, yaitu:
1.
Muraqabah
para shiddiqin dan muraqqabin
Dilakukan
untuk mengagungkan Allah dengan cara melatih hati senantiasa sadar bahwa Allah
mengetahui segala gerak-gerik manusia.
2.
Muraqqabahnya
orang-orang wara’
Mereka
sadar bahwa Allah mengawasi kondisi secara lahir dan bathin. Maksudnya yaitu
Allah selalu mengawasi kita, dimanapun dan kapanpun kita berada, apapun yang
ada dalam hati kita, Allah selalu mengawasinya baik yang dilakukan oleh anggota
tubuh maupun hati.
Muraqabah
memiliki dua cara yaitu yang pertama dengan cara mengamati seluruh gerak dan
diamnya badan serta gerak hati, dan yang kedua yaitu dengan caramengamati cara
dalam melaksanakan amal untuk memenuhi hak Allah dan selalu menyempurnakan
niatnya selama menyempurnakan amalnya.[12]
Adapun tindakan muraqabah adalah suatu tindakan
yang lebih baik dari pada amal dan ibadah yang selalu dilakukan setiap
hari.
- Al - khauf
Khauf adalah
suatu sikap mental yang merasa takut
kepada Allah karena kurang sempurna pengabdianya. Takut dan kawatir kalau Allah
tidak senang kepadanya. Orang yang selalu merasa takut maka timbullah sikap
untuk berusaha agar prilakunya tidak menyimpang dari apa yang dikendaki Allah
dan selalu berusaha untuk berbuat terpuji.
Menurut al Ghozali
Khauf terdiri dari tiga tingkatan atau tiga derajat, diantaranya adalah:
a.
Tingkatan
Qashir (pendek), Yaitu khauf seperti kelembutan perasaan yang dimiliki wanita,
perasaan ini seringkali dirasakan tatkala mendengarkan ayat-ayat Allah dibaca.
b.
Tingkatan
Mufrith (yang berlebihan), yaitu khauf yang sangat kuat dan melewati batas
kewajaran dan menyebabkan kelemahan dan putus asa, khauf tingkat ini
menyebabkan hilangya kendali akal dan bahkan kematian, khauf ini dicela karena
karena membuat manusia tidak bisa beramal.
c. Tingkatan Mu’tadil (sedang), yaitu
tingkatan yang sangat terpuji, ia berada pada khauf qashir dan mufrith.[13]
Sedangkan penyebab
dari ketakutan dibagi menjadi dua:
a.
sesuatu
yang ditakuti akibat yang di timbulkan
seperti
contoh : takut mati sebelum taubat,karena takut akan hak-hak Allah yang belum
terpenuhi
b.
sesuatu
yang ditakuti karena dzatnya
seperti
contoh : takut mati karena beratnya menghadapi kematian.
c. Mahabbah
Kata
mahabbah berasal dari kata ahabbah, yuhibbu, mahabatan, yang secara harfiah
berarti mencintai secara mendalam, atau cinta yang mendalam. Al- Mahabbah dapat
pula berarti al-wadud, yakni yang sangat kasih atau penyayang. Selain itu al-
mahabbah dapat pula berarti kecenderungan kepada sesuatu yang sedang berjalan,
dengan tujuan untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun
spiritual, seperti cintanya seseorang yang kasmaran pada sesuatu yang
dicintainya, orang tua pada anaknya, suatu bangsa terhadap tanah airnya, dll.
Mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba yang mencintai-Nya
selanjutnya dapat mengambil bentuk iradah dan rahmah Allah yang deberikan
kepada hamba-Nya dalam bentuk pahala dan nikmat yang melimpah. Mahabbah berbeda
dengan al- raghbah, karena mahabbah adalah cinta yang tanpa dibarengi dengan
harapan pada hal-hal yang bersifat duniawi, sedangkan al- raghbah adalah cinta
yang disertai perasaan rakus.
Selanjutnya Harun Nasution mengatakan bahwa mahabbah adalah
cinta dan yang dimaksud ialah cinta kepada Tuhan. Pengertian yang diberikan
kepada mahabbah antara lain:
1. Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan
kepada-Nya.
2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
3. Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari yang
dikasihi, yaitu Tuhan.
Dilihat dari segi tingkatannya, mahabbah sebagai dikemukakan al-Sarraj, sebagai dikutip Harun Nasution, ada tiga macam, yaitu mahabbah orang biasa, mahabbah orang shidiq dan mahabbah orang yang arif. Mahabbah orang biasa mengambil bentuk selalu mengingat Allah dengan dzikir dan senantiasa memuji Tuhan. Selanjutnya mahabbah orang shidiq adalah cinta orang yang kenal pada Tuhan, pada kebesaran-Nya, pada kekuasaan-Nya, pada ilmu-Nya dan lain-lain. Cinta tingkat kedua ini membuat orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedang hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya. Sedangkan cinta orang arif adalah cinta orang yang tahu betul pada Tuhan. Cinta serupa ini timbul karena telah tahu betul pada Tuhan.
Dilihat dari segi tingkatannya, mahabbah sebagai dikemukakan al-Sarraj, sebagai dikutip Harun Nasution, ada tiga macam, yaitu mahabbah orang biasa, mahabbah orang shidiq dan mahabbah orang yang arif. Mahabbah orang biasa mengambil bentuk selalu mengingat Allah dengan dzikir dan senantiasa memuji Tuhan. Selanjutnya mahabbah orang shidiq adalah cinta orang yang kenal pada Tuhan, pada kebesaran-Nya, pada kekuasaan-Nya, pada ilmu-Nya dan lain-lain. Cinta tingkat kedua ini membuat orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedang hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya. Sedangkan cinta orang arif adalah cinta orang yang tahu betul pada Tuhan. Cinta serupa ini timbul karena telah tahu betul pada Tuhan.
Ketiga tingkat mahabbah tersebut tampak menunjukkan suatu
proses mencintai, yaitu mulai dari mengenal sifat-sifat Tuhan, dilanjutkan
dengan leburnya diri (fana) pada sifat-sifat Tuhan itu, dan akhirnya menyatu
kakal (baqa) dalam sifat Tuhan.
Dengan uraian tersebut kita dapat memperoleh pemahaman bahwa mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang menyintai Tuhan sepenuh hati, sehingga yang sifat-sifat yang dicintai (Tuhan) masuk ke dalam diri yang dicintai. Tujuannya adalah untuk memperoleh kesenangan batiniah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, tetapi hanya dapat dirasakan oleh jiwa.
Dengan uraian tersebut kita dapat memperoleh pemahaman bahwa mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang menyintai Tuhan sepenuh hati, sehingga yang sifat-sifat yang dicintai (Tuhan) masuk ke dalam diri yang dicintai. Tujuannya adalah untuk memperoleh kesenangan batiniah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, tetapi hanya dapat dirasakan oleh jiwa.
Sementara itu ada pula pendapat yang
mengatakan bahwa al-mahabbah adalah satu istilah yang hampir selalu
berdampingan dengan makrifat, baik dalam kedudukannya maupun dalam pengertiannya.
Kalau makrifat adalah merupakan tingkat pengetahuan kepada Tuhan melalui mata
hati (al-qalb), maka mahabbah adalah perasaan kedekatan dengan Tuhan melalui
cinta (roh). Seluruh jiwanya terisi oleh rasa kasih dan cinta kepada Allah.
Oleh karena itu, menurut al-Ghazali, mahabbah itu manifestasi dari ma’rifah
kepada Tuhan. Dengan demikian kedudukan mahabbah lebih tinggi dari ma’rifah
BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pengertian dari Maqamat dan Ahwal ini
pada dasarnya merupakan suatu kesepakatan atau persetujuan para kaum sufi, semua itu tidak lain adalah hasil ijtihad dan
juga bukan dari bagian kepastian-kepastian dalam aturan Islam qath’iyyat.
Karena hal itu, bukan hanya merupakan pengertian yang tidak dijumpai di
kalangan di luar materi tasawuf, bahkan para sufi masing – masing berbeda-beda
dalam perinciannya.
Daftar Pustaka
Abu Nasr as-Sarraj, Al-Luma’ Rujukan Lengkap Ilmu Tasawwuf (Surabaya:
Risalah Gusti,2002)
Abdul Fattah Muhammad Sayyid Ahmad, At-tasawwuf Bayna
Abu Nasr as-Sarraj, Al-Luma’ Rujukan Lengkap Ilmu
Tasawwuf (Surabaya: Risalah Gusti,2002),M. sholikhin dan rosihan anwar, kamus tasawwuf,
Al-Qusyairi al-Naisabury, Al-Risalah al-Qusyairiyah fi
‘Ilm al-Tasawwuf, (Mesir: Dar al-Khair, t.t.)
Abdul Fattah Muhammad Sayyid Ahmad, At-tasawwuf Bayna,
Nahrowi Tohir Moenir, menjelajahi eksistensi tasawuf,
(Jakartaselatan: PT. as-Salam Sejahtera,2012)
Nata,Abudin.Akhlak
Tasawuf , (Jakarta,RAJAGRAFINDO.1996)
Rosihan anwar dan Muhtar Sholikhin, Ilmu Tasawwuf
Romly Arief, Kuliah Akhlak Tasawuf. (Jombang, Unhasy Press, 200 8.)
Tim Penyusun MKD Iain Sunan Ampel Surabaya, Akhlak Tasawuf,
(Surabaya: IAIN Sunan Ampel Pres. 2011)
[1]
M. sholikhin dan rosihan
anwar, kamus tasawwuf, 270
[2]
Abu Nasr as-Sarraj, Al-Luma’
Rujukan Lengkap Ilmu Tasawwuf (Surabaya: Risalah Gusti,2002),hal : 95
[3] Rosihan anwar dan Muhtar
Sholikhin, Ilmu Tasawwuf,72
[4]
Abu Nasr as-Sarraj, Al-Luma’
Rujukan Lengkap Ilmu Tasawwuf (Surabaya: Risalah Gusti,2002),hal : 95
[5]
Abdul Fattah Muhammad
Sayyid Ahmad, At-tasawwuf Bayna,118-119.
[7] Al-Qusyairi al-Naisabury,
Al-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilm al-Tasawwuf, (Mesir: Dar al-Khair, t.t.), h
64-65
[8] Ibid ., 65-66
[9] Hal tersebut sejalan dengan hadis Nabi yang
diriwayatkan oleh Suhaib:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
[10]
Nahrowi Tohir Moenir, menjelajahi
eksistensi tasawuf, (Jakartaselatan: PT. as-Salam Sejahtera,2012),hal.100
[11]
Ibid. hal. 100
[12]
Abdul Fattah Muhammad
Sayyid Ahmad, At-tasawwuf Bayna,139.
[13]
Tim
Penyusun MKD Iain Sunan Ampel Surabaya, Akhlak Tasawuf, (Surabaya: IAIN
Sunan Ampel Pres. 2011), 266-267
Tidak ada komentar:
Posting Komentar