KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah,
puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, karena
atas berkatdan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Dan sholawat serata salam semoga tetap
tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing kejalan yang diridhi-Nya.
Yang kedua kalinya,
kami ucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada pihak – pihak
yang telah membantu dan mensupot kami, sehingga makalah ini
dapat selesai tepat waktu, khususnya kepada Bpk. Hamid
dan juga teman – teman yang telah membantu kami didalam menyelesaikan makalah
ini.
Makaah ini kami susun
dengan tujuan agar dapat digunakan untuk mempermudah
pembaca untuk memahami materi terutama dalam mata kuliah
Filsafat Islam. Khususnya pembahasan tentang filsafat tetang Tuhan menurut
filsafat muslim; Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghozali, Ibnu Rusyd.
Segala
upaya telah dilakukan demi tersusunnya makalah ini. Namun, kami menyadari jika makalah ini masih banyak
terdapat kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
dapat dijadikan masukan untuk penyusunan makalah yang akan datang.
Penyusun
Surabaya, 23 Mei
2013
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang...................................................................................... 1
B.
Rumusan
Masalah ................................................................................ 1
C.
Tujuan
.................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Filsafat Al-kindi tentang Tuhan ............................................................... 2
B. Filsafat Al-Farabi tentang Tuhan ............................................................. 3
C.
Filsafat Ibnu Sina tentang Tuhan ............................................................. 8
D.
Filsafat Al-Ghozali tentang Tuhan ........................................................... 10
E.
Filsafat Ibnu Rusyd tentang Tuhan .......................................................... 11
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
belakang
Pada masa dinasti abasiyah banyak terjadi
penerjemahan buku – buku filsafat yunani ke dalam bahasa arab sehingga banyak
muncul fisuf – filsuf muslim pada saat itu, diantaranya adalah Al-Kindi, Al-Farabi,
Ibnu Sina, Al-Ghozali, Ibnu Rusyd dan lain – lain.
Mereka berbeda – beda
dalam berfilsafat tentang Tuhan, alam, manusia, jiwa dan ruh, kelompok
pertama yaitu Al-kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina bisa disebut dengan yunanisasi
islam, dan Al-Ghozalibisa disebut dengan islamisasi islam, dan Ibnu Rusyd bisa
disebut dengan islamisasi yunani. dalam makalah ini akan dibahas tetang
pendapat – pendapat filsuf muslim,
khususnya yang berkaitan dengan Tuhan.
B. Rumusan
masalah
1.
Bagaimana fisafat tentang
Tuhan menurut Al-Kindi ?
2.
Bagaimana fisafat tentang
Tuhan menurut Al-Farabi ?
3.
Bagaimana fisafat tentang
Tuhan menurut Ibnu Sina ?
4.
Bagaimana fisafat tentang
Tuhan menurut Al-Ghizali ?
5.
Bagaimana fisafat tentang
Tuhan menurut Ibnu Rusyd ?
C. Tujuan
1.
Pembaca mengetahui pendapat filsafat Al-Kindi tentang
Tuhan
2.
Pembaca mengetahui pendapat filsafat Al-Farabi tentang Tuhan
3.
Pembaca mengetahui pendapat filsafat Ibnu Sina tentang Tuhan
4.
Pembaca mengetahui pendapat filsafat Al-Ghozali tentang Tuhan
5.
Pembaca mengetahui pendapat filsafat Ibnu Rusyd tentang
Tuhan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Filsafat
al-Kindi tentang Tuhan
Setelah membuktikan bahwa alam semesta ini
diciptakan pada suatu masa (muhdats), kemudian Al-Kindi hendak
mendemonstrasikan bahwa alam ini mempunyai Dzat yang menciptakan (muhdits).
Untuk membuktikan adanya Allah Sang Pencipta, Al-Kindi mengajukan beberapa
argument.[1] Pertama,
bukti adanya Allah adalah diciptakannya alam semesta pada suatu masa. Apapun
yang diciptakan pada suatu masa, maka ia mempunyai pencipta. Setiap yang
memiliki permulaan waktu maka ia akan berkesudahan. Argumen kedua adalah
keaneragaman alam. Sebelum berargumen, al-Kindi menjelaskan makna dari istilah
‘satu’ (one/wahid). Kata ‘satu’ adalah istilah yang merujuk pada ‘satu’
(single) dari kumpulan beberapa objek dan merujuk pada ‘Esa’ (One),
Sang Pencipta. Untuk makna pertama, ia tersusun. dari beberapa objek, dan dapat
dibagi (divisible) kedalam beberapa bagian. Sedangkan untuk makna kedua
(One-ness, the Creator), Ia adalah satu yang tidak dapat dibagi-bagi (indivisible).
Selain ‘Yang Esa’ (One-ness) berarti berragam (multiple). Ketiadaan Yang
Esa juga berdampak pada ketiadaan yang berragam. Yang Esa (One-ness)
adalah penyebab adanya yang lain. Dialah Allah Sang Pencipta.
Argument ketiga adalah bahwa segala sesuatu
mustahil dapat menjadi penyebab atas dirinya sendiri. Karena jika ia sendiri
yang menyebabkan atas dirinya maka akan terjadi tasalsul (rangkaian)
yang tidak akan habis-habisnya. Sementara itu, sesuatu yang tidak berakhir
tidak mungkin terjadi. Karena itulah, penyebabnya harus dari luar sesuatu itu,
yakni Dzat Yang Maha Baik dan Maha Mulia dan lebih dahulu adanya dari pada
sesuatu itu. Ia adalah Allah swt, Dzat yang Maha Pencipta. Allah dalm filsafat
Al-Kindi tidak mempunyai hakikat dalam arti aniah dan mahiah. Bagi Al-Kindi
Allah adalah unik. Ia hanya satu dan tidak ada yang setara dengannya.[2]
Bukan ‘aniah karena Tuhan tidak termasuk dalam benda-benda yang ada
dalam alam, bahkan ia adalah Pencipta alam. Ia tidak tersusun dari materi (al-hayula)
dan bentuk (al-shurat). Tuhan juga tidak mempunyai hakikat dalam bentuk mahiah,
karena Tuhan tidak termasuk genus atau species. Tuhan hanya satu,
dan tidak ada yang serupa dengan Tuhan. Tuhan adalah unik. Ia adalah Yang Benar
Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Benar Tunggal (al-Haqq al-Wahid).
Ia semata-mata satu. Selain dari-Nya mengandung arti banyak.[3]
Sebagaimana kebanyakan umat Islam, Tuhan bagi Al-Kindi
adalah pencipta (mubdi’). Tuhanlah yang menciptakan alam beserta isinya.
Berbeda dengan Aristoteles, menurutnya Tuhan tak memiliki ciri-ciri seperi
Tuhan Penyelenggara atau Pencipta, sebab akan turunlah derajat kesempurnaan-Nya
jika Ia memikirkan segala sesuatu selain yang sempurna. Tuhan, menurutnya adalah
penyebab gerak, akan tetapi dirinya sendiri tidak harus bergerak. Tuhan
melahirkan sesuatu yang bergerak (alam semesta) dengan jalan dicintai.[4]
Jadi
bagi Al-Kindi, Tuhan bukanlah Pencipta alam semesta ini dalam pengertian dari
tiada menjadi ada. Tuhan dalam istilah Aristoteles adalah The Prime Mover bukan
The Creator.
B. Filsafat Al Farabi tentang Tuhan
Sebelum kita
membicarakan hakikat tuhan beserta sifat-sifatnya,terlebih dahulu kita membahas
permasalahan wujud ,wujud itu ada dua:
1. Wujud yang mungkin atau wujud yang nyata karena lainnya
(wajibul –wujud lighoirihi ) seperti wujud cahaya tidak akan ada, kalau
sekirannya tidak ada matahari, cahaya itu sendiri menurut tabiatnya bias wujud
dan tidak bias wujud, dengan kata lain cahaya adalah sebuah wujud yang mungkin,
wujud yang mungkin menjadi bukti adanya sebab yang pertama (Tuhan), karena
segala yang mungkin harus berakhir kepada sesuatu wujud yang nyata dan yang
pertama kali ada. Bagaimanapun panjangnya rangkaian wujud yang mungkin itu,
namun tetap membutuhkan kepada sesuatu yang memberinya sifat wujud, Karen sesuatu
yang mungkin tidak bias wujud dengan sendirinya.
2. Wujud yang nyata dengan sendirinya (wajibul-wujud li dzatihi).
Wujud ini adalah wujud yang tabiatnya itu sendiri menghendaki wujudnya. Yaitu
wujud yang apabila diperkirakan tidak ada, maka akan timbul kemustahilan sama
sekali, sebab kalau wujud ini tidak ada maka yang lainpun juga tidak ada sama
sekali. Ia adalah sebab pertama bagi semua wujud yang ada, inilah Tuhan (Allah).
Dari sini
dapat disimpulkan bahwa hakikat wujud menurut Al-Farabi itu ada dua, yang
pertama adalah wujud yang ada karena lainnya (wajibul-wujud lighoirihi), dan
wujud ini disebut wujud mungkin, wujud yang mungkin memberikan petunjuk tentang
sebab pertama (Tuhan). Yang kedua adalah wujud yang nyata dengan sendirinya (wajibul-wujud
li dzatihi), wujud ini adalah wujud yang tabi’atnya itu sendiri menghendaki
wujudnya, ia adalah sebab yang pertama bagi semua wujud, wujud yang wajib
tersebut dinamakan Tuhan.
1.
Hakikat Tuhan
Sampailah
kini pada kajian hakikat Tuhan yang dikemukakan oleh Al-Farabi, yakni
menyatakan bahwa Allah adalah wujud yang sempurna dan yang ada tanpa suatu
sebab, karena kalau ada sebab baginya, maka adanya Tuhan tidak sempurna lagi,
berarti ada Tuhan bergantung pada sebab lain. Tuhan adalah wujud yang mulia
yang tidak berawal dan tidak berakhir, sebagai sebab yang pertama berarti Tuhan
tidak ada yang mengawali. Tuhan juga wujud yang paling mulia, karena tidak
memerlukan yang lain. Lain halnya dengan wujud yang mungkin (makhluk) yang terdiri
dari dzat dan bentuk, pada Tuhan tidak demikian adanya.
Apabila Tuhan
terdiri dari unsur-unsur, maka dengan sendirinya akan terdapat susunan,
bagian-bagian pada substansinya, jadi Tuhan adalah substansi yang tiada
bermula, sudah ada dengan sendirinya dan akan ada untuk selamanya, oleh karena
itu ia adalah substansi yang azali, yang ada dari semula dan selalu ada.
Substansinya itu sendiri telah cukup jadi sebab bagi keabadian wujud-Nya.
Apabila
Tuhan lebih dari satu, maka Tuhan itu ada kalanya sama-sama wujudnya atau
barang kali berbeda dalam sifat-sifat tertentu. Dengan demikian tiap-tiap Tuhan
mempunyai dua macam sifat yaitu sifat umum yang dimiliki oleh Tuhan dan
sifat-sifat khusus yang hanya terdapat pada masing-masing Tuhan, inilah sesuatu
yang tidak mungkin.
Tuhan itu
maha Esa tidak terbatas dalam segala sesuatunya, bila terdapat hal-hal yang
menbatasi maka Tuhan tidak Esa lagi. Tuhan tidak dapat dirumuskan sama sekali
dengan batasan-batasan yang akan memberi pengertian seperti halnya manusia,
sebab suatu batasan berarti suatu penyusunan yang akan mengunakan golongan dan
pembedaan atau digunakan pengertian zat dan bentuk seperti definisi kepada
sesuatu benda atau barang, pada manusia dapat dikatakan hewan yang berakal,
menunjukkan golongan, sedang berakal menunjukkan perbedaan yang ada dari
golongan hal ini berbeda dengan Tuhan, oleh karena itu definisi tentang Tuhan
mustahil dapat dirumuskan, suatu rumus definisi tentang Tuhan berarti
menghilangkan keesaan Tuhan.
Maka dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian Tuhan menurut Al-Farabi adalah
sebagai berikut, Tuhan adalah substansi yang azali, Tuhan Maha Sempurna,
tidak ada yang sempurna kecuali wujudnya Tuhan tidak terdiri dari unsur-unsur,
Tuhan tidak dapat didefinisikan karena apabila Tuhan didefinisikan maka akan
menghilangkan keesaan Tuhan dan akan membatasi kemutlakan Tuhan.
2.
Sifat Tuhan
Tuhan adalah
begitulah taksiran Al-farabi tentang keesaan Tuhan dan ketunggalan-Nya dan
bahwa sifat Tuhan tidak berbeda dari dzat-Nya karena Tuhan adalah tunggal. Hal
ini sejalan dengan pendapatnya Mu’tazilah bahwasanya sifat Allah itu tidak berbeda dengan dzat-Nya dengan
kata lain ketika sifat Allah berbeda dengan substansi-Nya atau diberi sifat
yang berwujud sendiri dan kemudian melestarikannya pada Allah, maka sifat
tersebut menjadi qadim pula sebagai substansinya yang bersifat qodim hal ini
akan membawa pahan berbilangnya yang qadim ( ta’addud alqadim ), yang mana hal
tersebut tidak boleh terjadi pada dzat Allah yang Maha Esa karena yang qadim itu adalah Allah.
Untuk tahu
dan yakin tentang Esensi dan wujud Tuhan menurut Al-farabi, tidak perlu
menambah sifat-sifat tertentu pada dzat Tuhan. Bagi Al-farabi, Allah adalah aql
murni. Ia esa ada-Nya dan menjadi obyek pemikirannya hanya substansinya, tetapi
cukup substansinya sendiri. Jadi Allah adalah ‘aql, ‘aqil, dan u’aqil ( akal, substansi yang berfikir
dan yang terpikirkan ).
Demikian juga
Allah Maha Tahu. Ia tidak
membutuhkan sesuatu diluar dzat-Nya untuk tahu bahkan cukup dengan substansinya
saja, jadi Allah adalah
‘ilmu, substansi yang mengetahui, dan substansi yang diketahui ( ‘ilmu, ‘alim
dan ma’lum ). Adapun tentang asmaul husna menurut Al-farabi kita boleh saja
menyebutkan nama-nama tersebut sebanyak yang kita inginkan, akan tetapi
nama-nama tersebut tidak menunjukkan adanya bagian-bagian pada dzat Allah atau sifat yang berbeda dari
dzat-Nya.
3.
Pembuktian adanya Tuhan
Dalam adanya
membuktikan adanya Tuhan, ada beberapa dalil yang dapat digunakan yaitu dalil
ontology, teologi, dan dalil kosmologi. Al-Farabi dalam membuktikan adanya Tuhan menggunakan dalil kosmologi.
Dan diantara dalil-dalil tersebut , dalil tentang penciptaan atau
kosmologi yang banyak dipakai menurut istilah metafisika. Menurut Al-Farabi segala sesuatau yang ada
pada dasarnya hanya mempunyai dua keadaan yaitu yang pertama ada sebagai
kemungkinan, disebut wujud yang mungkin, dan yang kedua adalah sebagai
keharusan disebut wujud yang wajib.
Pangkal
pertama dari wujud yang mungkin ini tidak dapat. ditangkap dengan pancaindera.
Jelasnya Al-Farabi menggunakan dalilnya atas dasar pemikiran mungkin dan wajib.
Menurut Al-Farabi “setiap sesuatu yang ada dasamya ada kemungkinan adanya”
dan “ada pula wajib adanya”.
Kemungkinkan
adanya itu hendaklah ia mempunyai illat yang tampil mengutamakan adanya itu
lalu memutuskan adanya dan kemudian mengadakanya ke alam wujud ini. Dan
illat-illat ini tidaklah mungkin beredar dalam lingkungan yang tidak berakhir (vicious
circle). Tetapi ia itu hendaklah berhenti pada satu titik “adanya”
wajibul wujud “Allah” yang Illat itu tidak ada dalam mewujudkannya.
Segala
sesuatu yang ada, pada dasarnya hanya mempunyai dua keadaan pertama ada
sebagai kemungkinan disebut wujud yang mungkin, ada sebagai keharusan
disebut dengan wujud yang wajib. Dalam keadaan yang pertama adanya
ditentukan oleh adanya yang lain, dan keadaan kedua, adanya tanpa sesuatu yang
lain atau ada dengan sendirinya dan Sebagai keharusan.
Wujud
yang mungkin, adanya dapat disebabkan oleh wujud yang mungkin lainnya.
Sebagai contoh suatu buah sebagai wujud yang mungkin buah itu merupakan akibat
dari sebab perkawinan antara serbuk sari jantan dan sebuk sari betina yang ada
pada pohon, pohon tersebut juga sebagai Wujud yang mungkin dari sebab biji buah
yang ditanam. Dari rentetan tersebut tidaklah mungkin terjadi perputaran yang
melingkar atau sebab akibat yang tanpa berkesudahan.
Suatu
rangkaian yang kejadian pada akhirnya akan berhenti suatu titik akhir yaitu
berkesudahan pada wujud yang wajib. Sebagai sebab pertama dari segala wujud
yang mungkin. Wujud yang mungkin ditentukan oleh sebab yang lain, wujud yang
wajib itu sendiri, yang disebut dengan Tuhan (Allah). Pembuktian dengan
kosmologi seperti yang dilakukan oleh Al-Farabi termasuk dalil sederhana mudah
dimengerti, tetapi kelemahan dalil ini berpangkal suatu keyakinan yang
mengharuskan adanya Tuhannya. Jadi merupakan peloncatan pikiran dari kesimpulan
adanya sebab pertama atau wujud wajib yang harus diyakininya, bahwa sebab
pertama itu adalah Tuhan.[5]
Batasan
filsafat, dalam risalah al-kindi tentang filsafat awal, berbunyi demikian:
“Filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas
kemampuan manusia. Karena tujuan para filosof dalam berteori ialah mencapai
kebenaran, dan dalam praktek, ialah menyesuaikan dengan kebenaran.” Pada akhir
risalahnya, ia mensifati Allah dengan istilah “kebenaran” yang merupakan tujuan
filsafat. Maka satu yang benar (al-Wahid al-Haq) adalah yang pertama, sang
pencipta, sang pemberi rizki semua ciptaan-Nya. Pandangan ini berasal dari
filsafat Aristotelles, tetapi ‘penggerak tak tergerakkan’-nya Aristoteles
diganti dengan sang ‘Pencipta’. Perbedaan ini menjadi sistem fillsafat
al-kindi.[6]
C.
Filsafat Ibnu
Sina tentang Tuhan
Menurut Ibnu
Sina, bahwa Tuhan, dan hanya Tuhan saja yang memilki wujud tunggal, secara
mutlak; sedangkan segala sesuatu yang lain memiliki kodrat yang mendua. Karena
ketunggalannya, apakah Tuhan itu, dan kenyataan bahwa ia ada, bukanlah dua
unsur dalam satu wujud, tetapi satu wujud atomic dalam wujud yang tunggal.
Tentang apakah Tuhan itu, hakikat dia adalah identic dengan eksistensi-Nya. Hal
ini bukan merupakan kejadian bagi wujud lainnya, karena tidak ada kejadian lain
yang eksisitensinya identic dengan esensinya. Dengan kata lain seorang eskimo
yang tidak melihat gajah, ia tergolong salah seorang yang berdasarkan kenyataan
itu sendiri mengetahui bahwa gajah itu ada. Demikian halnya, adanya Tuhan
adalah satu keniscayaan, sedang adanya sesuatu yang lain hanya mungkin dan
diturunkan dari adanya Tuhan, dan dugaan bahwa Tuhan itu tidak ada mengandung
kontradiksi, karena dengan demikian yang lainpun juga tidak akan ada.[7]
Dalam paham
Ibnu Sina, essensi terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal.
Wujud-lah yang membuat tiap essensi yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar
akal. Ibnu
Sina dalam membuktikan adanya Tuhan dengan dalil wajib al-wujud dan mumkin
al-wujud mengesankan duplikat Al-farabi. Akan tetapi dalam filsafat wujudnya,
bahwa segala yang ada ia bagi pada tiga tingkatan dipandang memiliki daya kreasi
tersendiri sebagai berikut :
1.
Essensi yang tak dapat mempunyai
wujud (mumtani’al-wujud)
yaitu sesuatu yang mustahil berwujud (impossible being). Contohnya rasa
sakit.
2.
Essensi yang boleh mempunyai wujud
dan boleh pula tidak mempunyai wujud (mumkin al-wujud) yaitu sesuatu
yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contohnya adalah alam
ini yang pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi
tidak ada.
3.
Essensi yang tak boleh dan tidak
mesti mempunyai wujud (wijib al-wujud). Disini essensi
tidak bisa dipisahkan dari wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu
kesatuan. Di sini essensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian
berwujud, sebagaimana halnya dengan essensi dalam kategori kedua, tetapi essensi
ini mesti dan wajib mempunyai wujud selama lamanya. Wajib
al wujud inilah yang mewujudkan mumkin
al wujud.[8]
Ibnu
Sina dalam membuktikan adanya Allah tidak perlu mencari dalil dengan salah satu
makhluknya, tetapi cukup dengan dalil adanya wujud pertama, yakni wujud
al-wujud. Ibnu Sina dalam menetapkan adanya Allah mengemukakan dalil ontologi
yang sebelumnya telah pula dikemukakan Al-Farabi. Tentang sifat-sifat Allah,
sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga menyucikan Allah dari segala sifat yang
di kaitkan dengan esensinya karena Allah maha Esa dan maha sempurna. Ibnu Sina
juga berpendapat bahwa ilmu Allah hanya mengetahui yang universal di alam dan
Ia tidak mengetahui yang persial. Ungkapan terakhir ini di maksudkan Ibnu Sina
bahwa Allah mengetahui yang persial di alam ini secara tidak langsung, yakni
melalui zat-Nya sebagai sebab adanya alam.
D.
Filsafat
Al-Ghazali tentang Tuhan
Tuhan
tidak mngetahui juz’iyyat bukanlah paham yang dianut oleh para filsuf muslim.
Paham itu dianut oleh aristoteles.[9] Al-ghazali
berupaya menampilkan pandangan Ibnu Sina dengan menyatakan bahwa Ibnu Sina
berpendapat bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu, dengan pengetahuan umm,
tidak masuk dalam kategori zaman, tidak berbada pengetahuan-Nya karena zaman
yang lalu, yang akan datang dan yang sekarang. Meskipun demikian ia berpendapat
bahwa tidaklah ghaib dari pengetahuan-Nya apa saja yang ada di langit dan bumi
kendati sekecil atom. Hanya saja, dia mengetahui hal-hal yang juz’i individual
dengan (pengetahuan) umum. Setelah panjang lebar menjelaskan pandangan Ibnu
Sina itu, Al-Ghazali memilki pendapat bahwa kesimpulannya adalah Tuhan
sebenarnya tidak mengetahui hal-hal yang juz’i, seperti tidak mengetahui
siapakah Muhammad bin Abdullah, Abu Bakar ash-sidiq, Umar bin Khattab, dan
sebagainya.
Al-ghazali
mamandang bahwa Tuhan maha segala tahu baik besar ataupun kecil. Berbeda dengan
Ibnu Rusyd, Tuhan hanya tahu yang universal, bukan perkara yang kecil, tudingan
al-ghazali yang diungkapkan sebagai berikut:
“Yang
menjadi persoalan adalah pernyataan mereka,”Tuhan yang maha mulia mengetahui
hal-hal yang bersifat universal, tetapi tidak hal-hal yang bersifat
partikiular”. Pernyataan ini jelas-jelas menunjukkan ketidak beriamanan mereka.
Sebaliknya yang benar adalah “tidak ada sebutir atom pun di langit maupun bumi
luput dari pengetahuan-Nya.”
E.
Filsafat
Ibnu rusyd tentang Tuhan
Ibnu Rusyd
menyatakan bahwa para filsuf muslim tidaklah mempersoalkan tetang apakah Tuhan
mengetahui hal – hal yang juz’iyat ( perinci yang terjadi ) pada alam semesta
ini atau tidak mengetahuinya. Seperti halnya setiap ulama islam, para filsuf
muslim juga berpendapat bahwa tuhan mengetahui hal – hal yang bersifat juz’i
pada alam ini. Yang mereka persoalkan adalah bagaimana cara Tuhan mengetahui
hal – hal yang bersifat juz’I itu. Menurut ibnu Rusyd, para filsuf muslim
berpendapat bahwa pengetahuan Tuhan tetang hal – hal yang bersifat juz’i itu
tidak seperti pengetahuan menusia tentang hal – hal demikian karena pengetahuan
manusia mengambil bentuk efek ( akibat dari memerhatikan dari hal- hal juz’i
itu ), sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan sebab, yakni sebab bagi munculnya hal – hal yang bersifat juz’i itu.
Selain itu, ketidaksamaan tersebut disebabkan oleh pengetahuan Tuhan itu
bersifat qadim, yakni semenjak azali. Tuhan mengetahui hal – hal yang bersifat
juz’i di alam semesta ini, betapapun kecilnya hal tersebut. Manusia tidak
memiliki pengeetahuan sama sekali, tetapi secara berangsur – angsur, memperoleh
pengetahuan setelah memerhatikan bagian demi bagian alam secara seksama.[10]
Ibnu
Rusyd membicarakan filsafat ketuhanan di berbagai karangannya, antara lain pada
[11]tahafut
al tahafut dan mana-hij al-adillah, filsafat ini membahas tentang wujud tuhan,
sifat-sifat dan hubungan-nya dengan alam. Ibnu Rusyd meneliti berbagai golongan
yang timbul dalam islam. Menurut pendapat dia yang paling terkenal ada 4 yaitu
: Asy’ariyah, Mu’tazilah, Batiniah, dan Haswiyah. Masing-masing golongan
mempunyai kepercayaan yang berlainan tentang Tuhan, dan banyak memindahkan
kata-kata syara’ dari arti lahirnya kepada takwilan-takwilan yang di sesuaikan
dan kepercayaannya. Menurut golongan Asy’ariyah bahwa kepercayaan tentang wujud
tuhan dapat di capai melalui akal pikiran.
Ibnu
Rusyd mengatakan bahwa mengenal pencipta itu hanya mungkin dengan mempelajari
alam wujud yang di ciptakannya untuk di jadikan petunjuk bagi adanya pencipta
itu.
Menurut
Ibnu Rusyd, ada dua dalil qath’i mengenai esensi Tuhan[12],
yaitu:
1.
Dalil ‘Inayah
Dalil
ini menurut ibnu rusyd merupakan argumentasi terpenting untuk membuktikan
kebenaran Tuhan. Ibnu Rusyd menyebutkan bahwa dalil ‘inayah itu dibangun atas
dua dasar utama, yaitu:
a.
Bahwa semua yang
ada di alam ini sesuai untuk eksistensi manusia.
b.
Kesesuaian itu
tidak muncul secara tiba-tiba tanpa usaha, melainkan diatur oleh pencipta yang
berkuasa, yaitu Tuhan.
2.
Dalil Ikhtira’
Struktur
dalil ikhtira’ berdasar pada dua prinsip, yaitu:
a.
Bahwa semua
maujud adalah diciptakan.
b.
Bahwa semua yang
diciptakan pasti mempunyai pencipta.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Tuhan menurut Al-Kindi tidak aniyah
dan tidak mahiyah Tuhan tidak aniyah karena Tuhan tidak sama dengan benda-benda
yang ada di alam dan tidak mahiyah karena Tuhan tidak mempunyai genusn maupun
spesies, Ia hanya satu dan tidak ada yang setara dengannya.
2. Al-Farabi membagi wujud menjadi dua, yang pertama adalah wujud
yang ada karena lainnya (wajibul-wujud lighoirihi), dan wujud ini disebut wujud
mungkin, wujud yang mungkin memberikan petunjuk tentang sebab pertama (Tuhan).
Yang kedua adalah wujud yang nyata dengan sendirinya (wajibul-wujud li
dzatihi), ia adalah sebab yang pertama bagi semua wujud, wujud yang wajib
tersebut adalah Tuhan, Tuahn tidak dapat didefinisikan. Tetang sifat
Tuhan, pendapat Al-farabi sama dengan kaum Mu’tazilah.
3.
Menurut Ibnu
Sina, bahwa Tuhan, dan hanya Tuhan saja yang memilki wujud tunggal, secara
mutlak; sedangkan segala sesuatu yang lain memiliki kodrat yang mendua.
Pendapat Ibnu Sina tetang sifat Tuhan sama dengan Al-Farabi. Tuhan hanya
mengetahui hal – hal yang bersifat universal dan tidak mengetahui hal-hal yang
bersifat parsial. Ia membagi segala yang ada ia bagi pada tiga
tingkatan; mumtani’al-wujud,mumkin
al-wujud, wajib al-wujud.
4.
Al-ghazali
mamandang bahwa Tuhan maha segala tahu baik besar ataupun kecil.
5.
Ibnu Rusyd berpendapat bahwa
pengetahuan Tuhan tetang hal – hal yang bersifat particular itu berbeda dengan
pengetahuan manusia. Pengetahuan Tuhan merupakan sebab dan illat bagi wujud,
sedangkan wujud adalah sebab dan illat bagi pengetahuan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Kamil,
Muhammad-Muhammad ‘Uwaidah, Ibnu Rusyd
Filosof Muslim dari Andalusia, Jakarta : Riora Cipta, 2001
Nasution,
Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999
Mustofa, filsafat islam, Bandung : CV. Pustaka
Setia, 2007
Supriayadi,
Dedi, pengantar filsafat islam konsep,filsuf, dan ajarannya, Bandung: CV.
Putaka setia, 2010
Syarif, M., Para Filosof Muslim, Bandung : Mizan,
1993
Supriyadi,
Dedi, Pengantar filsafat islam, Bandung : CV. Pustaka Setia, 2009
Zar,
Sirajuddin, filsafat islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012
http://rifqiemaulana.wordpress.com/2010/01/22/konsep-emanasi-al-faraby/ , diakses tanggal 14 Mei 2013
[1]
Hasyimsyah
Nasution, Filsafat Islam,
(Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999) ,45-46.
[2]
Sirajuddin Zar, filsafat islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2012).86.
[5]
http://rifqiemaulana.wordpress.com/2010/01/22/konsep-emanasi-al-faraby/ (diakses tanggal 14 Mei 2013)
[6]
M. Syarif, Para Filosof Muslim, (Bandung
: Mizan, 1993).
[7]
Dedi supriayadi, pengantar filsafat islam konsep,filsuf, dan ajarannya,
( Bandung: CV. Putaka setia, 2010),130.
[9]
Dedi supriyadi, pengantar filsafat islam, (Bandung: cv,pustaka setia, november
2009), hal.70-71
[10]
Dedi supriayadi, pengantar filsafat islam konsep,filsuf, dan ajarannya., 238.
[11]
Mustofa, filsafat islam, (Bandung: CV. Pustaka, 2007), 15.
[12]
Kamil Muhammad Muhammad ‘Uwaidah, Ibnu
Rusyd Filosof Muslim dari Andalusia,( Jakarta, Riora Cipta: 2001),85.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar