POTRET
PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
DARI MASA KE MASA
DARI MASA KE MASA
Makalah
Diajukan
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam

Dosen Pengampuh:
Dr. H. Ah. Zakki Fuad, M.Ag
Oleh:
Muhammad Azhim Sulthani (D01212042)
Bagus Waskito Utomo (D01212006)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SURABAYA
2013
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah
Allamal Qur’an Kholaqol Insan Allamahul Bayan, washshalatu wassalamu ’ala
Ruslil Anam, Sayyidina Muhammadin wa ’ala alihi wa shohbihi ila yaumil manam.
Puji
syukur kepada Allah SWT, yang telah menciptakan manusia dan alam seisinya untuk
makhluknya serta mengajari manusia tentang al-qur’an dan kandungannya, yang
dengan akal pikiran sebagai potensi dasar bagi manusia untuk menimbang sesuatu
itu baik atau buruk, menciptakan hati nurani sebagai pengontrol dalam tindak
tanduk, yang telah menciptakan fisik dalam sebagus bagusnya rupa untuk
mengekspresikan amal ibadah kita kepada-Nya. Segala puji bagi Allah sang Maha
Kuasa pemberi hidayah, yang semua jiwa dalam genggaman-Nya, kasih kaming-Mu
mulia tak terperi. Rahman dan Rahim-Nya telah menyertai kami sehingga dapat
menyelesaikan penulisan makalah ini.
Sholawat
bermutiarakan salam senantiasa kita haturkan kepada revolusionar muslim sejati
baginda Muhammad SAW, serta para sahabatnya yang telah membebaskan umat manusia
dari lembah kemusyrikan dan kejahiliyahan menuju alam yang bersaratkan
nilai-nilai tauhid dan bertaburan cahaya ilmu pengetahuan dan kebenaran. Dalam
makalah ini, penulis berupaya semaksimal mungkin menyajikan makalah dalam
bentuk yang mudah dibaca. Namun, penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan.
Tiada
yang dapat kami ucapkan sebagai balas budi kami selain untaian ucapan terima
kasih dan doa, agar semua amal kebaikan selama ini penuh dengan iringan rahmat
dan ridho Allah SWT. Sehingga dicatat sebagai amalan makbulan’indallah. Amin.
Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan semuanya,
khususnya bagi penulis sendiri.
Surabaya,
16 Maret 2013
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................... ii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................. 2
1.3 Tujuan............................................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN........................................................................................... 3
2.1 Masa awal masuknya Islam.............................................................................. 3
2.2 Masa penjajahan............................................................................................... 5
2.3 Masa kemerdekaan dan Orde Lama................................................................. 8
2.4 Masa Orde Baru...............................................................................................
2.5
Masa Orde
Reformasi.......................................................................................
BAB III
PENUTUP...................................................................................................
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Berbicara tentang pendidikan Islam di
Indonesia, sangatlah erat hubungannya dengan kedatangan Islam itu sendiri ke
Indonesia. Dalam konteks ini, Mahmud Yunus mengatakan, bahwa sejarah pendidikan
Islam sama tuanya dengan masuknya Islam ke Indonesia. Hal ini disebabkan karena
pemeluk agama Islam yang kala itu masih tergolong baru, maka sudah pasti akan
mempelajari dan memahami tentang ajaran-ajaran Islam. Meski dalam pengertian
sederhana, namun proses pembelajaran waktu itu telah terjadi. Dari sinilah
mulai timbul pendidikan Islam, dimana pada mulanya mereka belajar di
rumah-rumah, langgar/surau, masjid dan kemudian berkembang menjadi pondok
pesantren. Setelah itu baru timbul sistem madrasah yang teratur sebagaimana
yang dikenal sekarang ini.
B.
Rumusan
masalah
- Bagaimana Potret pendidikan islam di Indonesia pada masa awal masuknya islam?
- Seperti apa Potret pendidikan islam di Indonesia pada masa penjajahan?
- Bagaimana Potret pendidikan islam di Indonesia pada masa kemerdekaan dan Orde lama?
- Seperti apa Potret pendidikan islam di Indonesia pada masa Orde Baru?
- Bagaimana Potret pendidikan islam di Indonesia pada masa reformasi?
C.
Tujuan
Masalah.
1.
Mengetahui
Potret pendidikan islam di Indonesia pada masa awal masuknya islam.
2.
Bisa menguraikan
bagaimana Potret pendidikan islam di Indonesia pada masa penjajahan.
3.
Mengetahui
Potret pendidikan islam di Indonesia pada masa kemerdekaan dan Orde lama.
4.
Memahami Potret
pendidikan islam di Indonesia pada masa Orde baru.
5.
Mengetahui
Potret pendidikan islam di Indonesia pada masa Orde Reformasi.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
Pendidikan
di Indonesia pada masa awal masuknya islam
Pendidikan Islam di Indonesia sudah
berlangsung sejak masuknya Islam di Indonesia. Agama islam datang ke Indonesia
dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat, disiarkan secara damai tanpa
paksaan, kekerasan atau perang. Dalam penyiaran islam pada tahun-tahun
permulaan dilakukan oleh pemuka masyarakat yang dikenal dengan sebutan para
wali.Parawali inilah yang berjasa mengembangkan agama islam, terutama di pulau
Jawa yang dikenal dengan sebutan wali songo.
Kegiatan
pendidikan Islam tersebut merupakan pengalaman dan pengetahuan yang penting
bagi kelangsungan perkembangan Islam dan umat Islam, baik secara kuantitas
maupun kualitas. Pendidikan Islam itu bahkan menjadi tolak ukur, bagaimana
Islam dan umatnya telah memainkan perananya dalam berbagai aspek sosial,
politik, budaya.
Pada tahap awal pendidikan islam dimulai
dari kontak-kontak mubaligh (pendidik) dengan peserta didiknya. Setelah
komunitas muslim terbentuk di suatu daerah tersebut tentu mereka membangun
tempat peribadatan dalam hal ini disebut masjid. Masjid merupakan lembaga
pendidikan Islam yang pertama muncul disamping tempat kediaman ulama dan mubaligh.
Setelah itu muncullah lembaga-lembaga pendidikan lainnya seperti pesantren,
dayah, ataupun surau. Nama-nama tersebut walaupun berbeda tetapi hakikatnya
sama yakni sebagai tempat menuntut ilmu pengetahuan keagamaan. Perbedaan nama
itu adalah dipengaruhi oleh perbedaan tempat.
Inti
dari pendidikan pada masa awal tersebut adalah ilmu-ilmu keagamaan yang
dikonsentrasikan dengan membaca kitab-kitab klasik. Kitab-kitab klasik
menjadi ukuran bagi tinggi rendahnya
ilmu keagamaan seseorang.[1]
Sejarah Pendidikan Islam dimulai sejak
agama Islam masuk ke Indonesia yang oleh sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa
awal mula masuknya di pulau Suamtera bagian utara di daerah Aceh. Artinya,
sejarah pendidikan Islam sama tuanya dengan masuknya agama Islam keIndonesia.
Hal ini disebabkan karena pemeluk agama baru tersebut sudah tentu ingin
mempelajari dan mengetahui lebih dalam tentang ajaran-ajaran Islam. Ingin
pandai sholat, berdoa dan membaca al-Quran yang menyebabkan timbulnya proses
belajar, meskipun dalam pengertian yang amat sederhana.
Dari
sinilah mulai timbul pendidikan Islam, dimana pada mulanya mereka belajar di
rumah-rumah, langgar/surau, masjid kemudian berkembang menjadi pondok
pesantren. Setelah itu baru timbul sistem madrasah yang teratur sebagaimana
yang kita kenal sekarang ini.
Kendatipun
pendidikan Islam dimulai sejak pertama Islam itu sendiri menancapkan dirinya di
kepulauan nusantara, namun secara pasti tidak dapat diketahui bagaimana cara
pendidikan pada masa permulaan Islam di Indonesia, seperti tentang buku yang
dipakai, pengelolanya dan sistemnya. Yang dapat dipastikan hanyalah pendidikan
Islam pada waktu itu telah ada, tetapi dalam bentuk yang sangat sederhana.
Pada
tahap awal pendidikan islam, pendidikan berlangsung secara informal. Disinilah
para Muballigh banyak berperan, yaitu dengan
memberikan contoh teladan dalam sikap hidup mereka sehari-hari. Para
Muballigh itu menunjukan akhlaqul karimah, sehingga masyarakat yang menjadi
tertarik untuk memeluk agama islam dan mencontoh perilaku mereka.
Didalam
sejarah islam, sejak zaman Nabi Muhammad SAW, rumah-rumah ibadah difungsikan sebagai tempat pendidikan.
Dengan demikian, masjid berfungsi sebagai tempat pendidikan adalah merupakan
suatu keharusan di kalangan masyarakat muslim.
Adanya
masjid tersebut dapat pula dipastikan bahwa mereka menggunakannya untuk melaksanakan
proses pendidikan islam, dan sejak saat itu pula mulai berlangsungnya
pendidikan non formal.
Selain
itu, penyebaran Islam juga dilakukan melalui hubungan perdagangan di luar
Nusantara hal ini, karena para penyebar dakwah
atau mubaligh merupakan utusan
dari pemerintahan Islam yang datang dari luar Indonesia , maka untuk menghidupi
diri dan keluarga mereka, para mubaligh
ini bekerja melalui cara berdagang, para mubaligh inipun menyebarkan
Islam kepada para pedagang dari penduduk
asli, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula ke penduduk
lainnya, karena umumnya pedagang dan ahli kerajaanlah yang pertama mengadopsi
agama baru tersebut[2].
Dan dengan demikian masyarkat atau rakyatnya memeluk agama Islam seperti yang
terjadi pada beberapa kerjaaan, yaitu Kerajaan Samudra pasai, Perlak, Aceh
Darussalam, dan Maluku, dan beberapa kerajaan lainnya.
B. Pendidikan di Indonesia pada masa penjajahan
a.
Belanda
Belanda
terus menerapkan langkah-langkah yang membatasi gerak pengamalan agama Islam.
Termasuk juga terhadap pendidikan Islam sendiri. Politik pemerintah Belanda
terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas Islam didasari oleh rasa ketakutan,
rasa panggilan agamanya dan rasa kolonialismenya.[3]
Pemerintah kolonial Belanda
memperkenalkan sekolah-sekolah modern menurut sistem persekolahan yang
berkembang di dunia barat, sedikit banyak mempengaruhi sistem pendidikan di
Indonesia, yaitu pesantren. Padahal di ketahui bahwa pesantren merupakan
merupakan satu-satunya lembaga pendidikan formal di Indonesia sebelum adanya
kolonial Belanda, justru sangat berbeda dalam sistem dan pengelolaannya dengan
sekolah yang diperkenalkan oleh Belanda.[4]
Beraneka masam
sekolah, ada yang bernama Sekolah Dasar, Sekolah Kelas II, HIS, MULO, AMS dan
lain-lain. Tetapi sekolah-sekolah tersebut seluruhnya hanya mengajarkan
mata pelajaran umum, tidak memberikan mata pelajaran agama sama sekali, hal ini
terkait kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1905 Belanda
memberikan aturan bahwa setiap guru agama harus minta izin dahulu. Peraturan
itu besar sekali pengaruhnya dalam menghambat perkembangan pendidikan Islam.
Dua bentuk
lembaga pendidikan, yaitu yang dikelola
umat Islam dan yang dikelola kolonial. Sistem pendidikan yang dikelola Belanda
adalah pendidikan modern liberal dan netral agama. Namun Belanda lebih
melindungi Kristen dari pada Islam. Mereka menganggap Islam memiliki kekuatan
politik yang membahayakan mereka.
Pada tahun 1832 M pemerintah
Belanda membentuk suatu badan khusus yang bertugas mengawasi kehidupan beragama
dan pendidikan Islam yang disebut Presterraden. Atas nasihat dari badan inilah
maka pada tahun 1905 M pemerintah mengeluarkan peraturan yang isinya bahwa
orang yang memberikan pengajaran (pengajian) harus meminta izin lebih dahulu.
Pada tahun 1925M pemerintah mengeluarkan peraturan yang lebih ketat lagi
terhadap pendidikan agama Islam yaitu bahwa tidak semua orang (kyai) boleh memberikan
pelajaran mengaji. Pada tahun 1932M keluar pula peraturan yang dapat
memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau
memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah yang disebut ordanansi
sekolah liar.[5]
b.
Jepang.
Tujuan
Jepang ke Indonesia ialah menjadikan Indonesia sebagai sumber bahan mentah dan
tenaga manusia yang sangat besar artinya bagi kelangsungan perang Pasifik. Hal
ini sesuai dengan cita-cita politik ekspansinya.[6]
Mengenai pendidikan zaman jepang
disebut “Hakko Ichiu”, yakni mengajak bangsa Indonesia bekerjasama dalam rangka
mencapai kemakmuran bersama Asia Raya. Sistem persekolahan di zaman pendudukan
Jepang banyak perbedaannya dibandingkan dengan penjajahan Belanda.[7]
Jepang mengadakan perubahan di
bidang pendidikan, di antaranya menghapuskan dualisme pengajaran. Dengan begitu
habislah riwayat penyusunan pengajaran Belanda yang dualistis membedakan antara
pengajaran barat dan pengajaran pribumi. Adapun susunan pengajaran menjadi,
pertama, Sekolah Rakyat enam tahun (termasuk sekolah pertama). Kedua, sekolah
menengah tiga tahun. Ketiga, sekolah menengah tinggi tiga tahun (SMA pada zaman
Jepang).
Dalam memobilisasi Islam Indonesia,
pemerintah Jepang menciptakan hubungan yang sangat dekat dengan elit muslim.[8]
para pelajar diharuskan mengikuti
latihan fisik, kemiliteran dan indoktrinasi ketat. Pada akhir zaman Jepang
tampak tanda-tanda tujuan menjepangkan anak-anak Indonesia. Maka dikerahkan
barisan propaganda Jepang yang terkenal dengan nama sedenbu, untuk menanamkan
ideologi baru, untuk menghancurkan ideologi Indonesia Raya.
Untuk menyebarluaskan ideologi dan
semangat Jepang, para guru digembleng secara khusus oleh pemimpin-pemimpin
Jepang, selama tiga bulan di Jakarta. Mereka diwajibkan meneruskan materi yang telah
diterima itu kepada teman-temannya. Untuk menanamkan semangat Jepang,
murid-murid diajarkan bahasa Jepang, nyanyian-nyanyian semangat kemiliteran.[9]
Ada beberapa segi positif pada
zaman penjajahan Jepang, yaitu :
1.
Jepang memerikan pendidikan militer
kepada para pemuda Indonesia, dengan maksud memperkuat pertahanan mereka.
Namun, pendidikan ini secara tidak langsung memberikan bekal kepada para
pejuang bangsa dalam bidang keprajuritan untuk mewujudkan cita-cita merdeka.
2.
Menghapus dualisme pendidikan
penjajahan belanda dan nenggantinya dengan dengan pendidikan yang sama bagi
setiap orang. Sehingga bukan hanya kelompok-kelompok tertentu yang dapat
menikmati pendidikan, melainkan semua lapisan masyarakat. Hal ini sudah tentu
menguntungkan perjuangan kita.
3.
Pemakaian bahasa Indonesia secara
luas diinstruksikan oleh penjajah Jepang. Bahasa Indonesia mulai dipakai di
lembaga-lembaga pendidikan, di kantor-kantor, dan dalam pergaulan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Hasbullah, kapita Selekta
Pendidikan Indonesia, (Bandung: Grafindo Persada, 1996)
Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,(Jakarta:
Raja Grafindo, 1999)
H. A. Mustafa dan Abdullah Ally, Sejarah Pendidikan Islam di
Indonesia, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 1998)
Prof.Dr.H.HaidarPutra Daulay,MA, Pendidikan Islam Dalam Sistem
Pendidikan Nasional di Indonesia (Jakarta: Kencana. 2004)
Suwendi, Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2004)
Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,
2000)
[1]
Prof.Dr.H.Haidar Putra Daulay,MA, Pendidikan Islam Dalam Sistem Pendidikan
Nasional di Indonesia (Jakarta: Kencana. 2004) hal 145-146)
[2] Zuhairini, Sejarah Pendidikan
Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000),hal.135
[3] Hasbullah, Sejarah Pendidikan
Islam di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo, 1999 ) hal. 54
[4] Hasbullah, kapita Selekta
Pendidikan Indonesia,(Bandung : Grafindo Persada, 1996) hal.14
[5]
Ibid. hal 149
[6]
H. A. Mustafa dan Abdullah Ally,
Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Bandung: CV. Pustaka Setia,
1998), hlm. 97
[7]
Ibid. hal 62
[8]
Suwendi, Sejarah dan
Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004),
hlm. 85
[9]
Ibid, hal. 103-105
Tidak ada komentar:
Posting Komentar