Nama / cosma :
Bagus Waskito Utomo / C
Materi Pokok :
Al Qur’an dan Hadits
Kompetensi
Dasar : Mencintai Al Qur’an dan Al Hadits
Indikator :
1.
Menjelaskan cara mencintai Al Qur’an dan Hadit
2.
Mengidentifikasi perilaku orang yang mencintai Al Qur’an dan hadits
3.
Menerapkan perilaku mencintai Al Qur’an dan hadits dalam kehidupan
Tujuan :
1.
Siswa mampu menjelaskan cara mencintai Al Qur’an dan Hadit
2.
Siswa dapat mengidentifikasi perilaku orang yang mencintai Al Qur’an
dan hadits
3.
Siswa mampu menerapkan perilaku mencintai Al Qur’an dan hadits
PEMBAHASAN
Mencintai
Al Qur’an Dan Hadits
A.
Perintah Mencintai Al Qur’an
Al
Qur’an dan hadits merupakan pedoman kehidupan bagi setiap umat islam. Dengan berpedoman
pada keduanya maka kehidupan manusia akan selalu lurus dalam bimbingan Allah
Subhanahu wata’ala. Menjadikan Al Qur’an dan hadits sebagai pedoman maka kita
juga harus mencintai keduanya sehingga dapat meneladaninya dalam kehidupan.[1] Mencintai
Al Qur’an dan hadits adalah kewajiban bagi setiap umat islam. Banyak dalil dari
Al Qur’an maupun hadits yang memerintahkan untuk mencintai Al Qur’an dan
hadits. Salah satu anjuran tentang perintah mencintai Al Qur’an dan hadits
yaitu sesuai dengan (QS Ali ‘Imran : 31)
ö@è%bÎ)óOçFZä.tbq7Åsè?©!$#ÏRqãèÎ7¨?$$sùãNä3ö7Î6ósãª!$#öÏÿøóturö/ä3s9ö/ä3t/qçRè3ª!$#urÖqàÿxîÒOÏm§[2]ÇÌÊÈ
Katakanlah:
"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat kepada umat
islam agar berpegang teguh terhadap Al Qur’an dan hadits. Dengan berpegang
teguh dengan ajaran keduanya maka umat islam akan senantiasa selamat di
kehidupan dunia dan akhirat. Rasulullah sholallaahu ‘alaihi wasallam bersabda
sebagai berikut :
ترَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ
بِهِمَا كِتَابَ اللّهِ وَسُنَّةَ نَبِيَّةِ . ( رواه مالك )
Aku
tinggalkan kepadamu dua perkara. Kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang
teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al Qur’an) dan sunnah nabi-Nya
(hadits). (HR Malik).
Adapun dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa untuk mencapai kenikmatan iman
harus dilalui dengan beberapa syarat. Salah satu syaratnya adalah mencintai Al
Qur’an dan Hadits melebihi cintanya terhadap yang lain.
Mempelajari Al Qur’an dan hadits adalah
kewajiban umat islam. Dengan mencintai kita akan tertarik untuk mempelajari,
dengan mempelajari kita akan mengerti dan memahami, kemudian dengan mengerti
dan memahami kita dituntut untuk mengikuti dan melaksanakan apa yang diajarkan
oleh Al Qur’an dan hadits tersebut.
Menanamkan kecintaan terhadap Al Qur’an dan
hadits harus dimulai sejak dini, karena masa anak-anak adalah masa emas untuk
menanamkan pendidikan yang terbaik. Menurut Ibnu Khaldun, pendidikan Al Qur’an
merupakan pondasi seluruh kurikulum pendidikan di dunia Islam, karena Al Qur’an
merupakan syiar agama yang mampu menguatkan aqidah dan mengokohkan keimanan.[3]
Dengan menanamkan kecintaan anak terhadap
Al Qur’an sejak dini, maka kecintaan itu akan bersemi pada masa dewasanya
kelak, mengalahkan kecintaan anak terhadap hal lain, karena masa kanak-kanak
itulah masa pembentukan watak yang utama.
Anak ibarat lembaran kertas yang masih
polos dan putih. Bila sejak dini ditanamkan kecintaan Al Qur’an maka
benih-benih kecintaan itu akan membekas pada jiwanya dan kelak akan berpengaruh
pada perilakunya sehari-hari, berbeda bila kecintaan itu ditanamkan setelah
dewasa maka akan terasa sulit.[4]
B.
Bentuk-bentuk Mencintai Al Qur’an dan Hadits
Mencintai Al Qur’an dan hadits dapat
dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.
a.
Memiliki kitab Al Qur’an dan Hadits
b.
Memiliki kemauan untuk dapat membaca dan mempelajari Al Qur’an dan
hadits dengan baik dan benar.
c.
Memiliki kemauan untuk dapat memahami isi kandungan Al Qur’an dan
hadits dengan baik dan benar.
d.
Rajin mendatangi majelis-majelis ilmu yang mempelajari Al Qur’an
dan hadits.
e.
Menjaga kesucian Al Qur’an dan hadits, tidak menganggapnya remeh.
f.
Peduli terhadap lembaran-lembaran Al Qur’an dan hadits yang
berceceran dengan mengumpulkannya.
g.
Tidak suka jika ada orang yang merendahkan ajaran dalam Al Qur’an
dan Hadits.[5]
Bentuk mencintai Al Qur’an dan hadits yang paling utama adalah
mencintai ajaran-ajaran dalam Al Qur’an dan hadits, dengan mempelajari dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk lain dalam mencintai Al
Qur’an dan hadits sebagai berikut.
Pertama, kita harus
mempelajari Al Qur’an dan hadits, baik bacaan maupun isi kandungannya secara
bertahap. Sekarang ini banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan untuk
mempelajari Al Qur’an dan hadits, baik formal maupun nonformal dari tingkat
dasar sampai tingkat yang tinggi. Dari pendidikan formal seperti MI, MTs, MA
dan seterusnya, sedangkan yang nonformal seperti TPQ, Madrasah diniyah, pondok
pesantren dan sebagainya.itu semua bertujuan supaya generasi islam tetap dapat
mempelajari Al Qur’an dan hadits dengan harapan mereka kelak menjadi generasi
yang mencintai Al Q ur’an dan hadits serta mampu mengajarkannya kepada
generasai selanjutnya.
Kedua, setelah kita mempelajarinya dengan baik, tugas kita
selanjutnya adalah menjaganya dengan menghafalkannya jangan sampai lupa atau bahkan
meninggalkannya sama sekali. Hendaklah Al Qur’an menjadi bacaan wajib bagi kita
sehari-hari, karena sebaik-baik bacaan adalah bacaan Al Qur’an. Karena orang
yang mencintai sesuatu maka dia akan dengan senang hati selalu menyebut
menyebut (membacanya) setiap saat, sebagaimana kita mencintai Allah subhanahu
wata’ala, maka kita akan selalu menyebut nama-Nya dalam Dzikir kita.
Ketiga adalah
mengamalkannya sebagai tahap paling inti atas apa yang telah dipelajarinya dari
Al Qur’an dan hadits. Sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh para sahabat
Nabi Muhammad sholallaahu ‘alaihi wasallam dan generasi salaf yang menjadikan
Al Qur’an dan hadits sebagai sandaran dalam setiap aspek kehidupan mereka, baik
ibadah maupun muamalah. Mereka telah benar-benar meneladani Rasulullah
sholallaahu ‘alaihi wasallam sebagai idola hidup mereka, karena akhlak
Rasulullah Sholallaahu ‘alaihi wasallam adalah Al Qur’an yang menghasilkan
sabda-sabda sebagai penjabaran dan penjelas dari Al Qur’an yaitu hadits.[6]
C.
Perilaku orang yang mencintai Al Qur’an dan Hadits
Setelah memperhatikan cara-cara mencintai Al Qur’an dan hadits,
selanjutnya kecintaan tersebut diwujudkan dengan perilaku dalam kehidupan
sehari-hari. Orang yang mencintai Al Qur’an dan hadits akan berprilaku sesuai
yang diajarkan didalamnya.
1.
Berprilaku sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits
Tanda orang yang mencintai adalah melakukan apa saja yang ada dalam
kecintaannya. Begitu pula dengan mencintai Al Qur’an dan hadits, diwujudkan
dengan perilaku setiap hari sesuai dengan ajaran didalamnya.
2.
Mempelajari Al Qur’an dari Sumber yang Sahih dan Terpercaya
Al Qur’an dan hadits merupakan sumber hukum tertinggi dalam islam,
mempelajari keduanya harus dengan orang-orang yang ahli dan teruji kebenarannya
oleh ulama-ulama yang lain.
3.
Menjaga Kesucian Al Qur’an dan Hadits
Menjaga kesucian Al Qur’an artinya meletakkan Al Qur’an sesuai
yaitu tidak membacanya ditempat-tempat kotor, meletakkannya ditempat yang mulia
serta mendengarkan dengan seksama jika dibacakan suatu ayat.
4.
Membela dan mempertahankan Al Qur’an dan Hadits dari Orang yang
tidak senang terhadap keduanya
Orang yang mencintai Al Qur’an dan hadits pasti akan membela
keduanya jika ada seorang yang menghina, melecehkan atau mempermainkannya.
Kecintaannya kepada Al Qur’an dan hadits akan menyebabkan ia marah dan tidak
terima jika keduanya diperlakukan dengan tidak layak.
5.
Tidak menafsirkan Al Qur’an dan Hadits dengan hawa nafsu, melainkan
berdasarkan dengan kaidah-kaidah yang telah di tetapkan dalam al qur’an dan
hadits.
Orang yang mencintai Al Qur’an dan hadits akan patuh terhadap
keduanya dengan tidak berusaha mengotak-atik atau mengganti kandungan terhadap
keduanya. Ia tidak akan menafsirkanya sesuai hawa nafsu keinginannya sendiri.[7]
DAFTAR PUSTAKA
Fattah, Al Qur’an Hadits, LKS
untuk smp kelas VII Semester 1, (Surakarta: Putra Nugraha).
Al Qura’anul word.
Mukadimah Ibnu Khaldun.
Muhaimin, AlQur’an hadits, kelas IX, (Grafindo
media pratama 2008)
Fattah, Al Qur’an Hadits, LKS
untuk smp kelas VII Semester 1, (Surakarta: Putra Nugraha).
Tim tasbih, Al Qur’an hadits,
LKS kelas VII, (jawa tengah:CV.Media karya putra 2010).
Fattah, Al Qur’an Hadits, LKS
untuk smp kelas VII Semester 1, (Surakarta: Putra Nugraha) 24.
[1] Fattah, Al
Qur’an Hadits, LKS untuk smp kelas VII Semester 1, (Surakarta: Putra
Nugraha), 15.
[3]Mukadimah Ibnu
Khaldun: 461
[5]Fattah, Al
Qur’an Hadits, LKS untuk smp kelas VII Semester 1, (Surakarta: Putra
Nugraha), 23.
[7]Fattah, Al
Qur’an Hadits, LKS untuk smp kelas VII Semester 1, (Surakarta: Putra
Nugraha), 24.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar